Siapa yang menyangka, Jack yang dulu hanyalah guru miskin di Tiongkok kini jadi pemilik perusahaan jual-beli online saingan e-Bay senilai lebih dari US$ 165,5 miliar (Rp 1.655 triliun).
Perusahaannya itu akan melangsungkan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) termahal sepanjang sejarah dengan target dana maksimal US$ 24,3 miliar (Rp 243 triliun) pekan ini di Bursa New York.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun yang sama ia berkesempatan mengunjungi Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya dalam kunjungan bisnis. Pada waktu itu banyak sekali perusahaan Tiongkok yang mengekspor ke AS tapi terkendala dalam bahasa, di sinilah peran Jack sangat dibutuhkan.
Untuk pertama kalinya juga Jack mengenal internet. Temannya di AS memperkenalkan Jack kepada internet dan memberitahu bahwa banyak sekali informasi yang bisa dimanfaatkan lewat internet.
Namun alangkah terkejutnya ia ketika mencari informasi soal Tiongkok di internet pada waktu itu hasilnya nihil. Sama sekali tidak ada informasi tentang Negeri Tirai Bambu di dunia maya.
Ketika pulang ke kampung halamanya, ia memutuskan untuk membuat situs tentang Tiongkok. Berbagai informasi ia masukan ke dalam situs bernama China Pages itu, seperti daftar perusahaan Tiongkok yang mencari pelanggan di luar negeri.
Usahanya ini gagal dan terpaksa ditutup. Empat tahun kemudian, ia kembali berbisnis di dunia maya. Ia namakan perusahaan internet keduanya ini Alibaba.
Jack sama sekali tidak mirip kebanyakan CEO perusahaan teknologi. Ia gagal tes masuk perguruan tinggi dua kali sebelum akhirnya diterima. Ia punya perusahaan internet terbesar di Tiongkok, tapi ia malah kuliah untuk bisa menjadi guru, dan ia sama sekali tidak mengerti caranya mengkode komputer.
Pada pertengahan tahun 2000, saat Alibaba berani melawan eBay, banyak media Tiongkok menyebutnya 'Jack si Orang Gila' karena sering membual tentang kesuksesannya di masa depan.
Kerja kerasnya membuahkan hasil, saat ini Alibaba bisa dibilang eBay-nya Tiongkok. Alibaba menjual sekitar hampir satu miliar produk dan termasuk ke dalam daftar 20 situs yang paling sering dikunjungi.
Sebanyak 60% paket kiriman yang beredar di Tiongkok berasal dari Alibaba. Perusahaan ini juga punya sistem pembayaran sendiri untuk memudahkan penggunanya, bernama Alipay.
Sejak lama Ma ingin membawa perusahaannya go public namun sempat gagal ketika ditolak oleh regulator Hong Kong untuk IPO September tahun lalu.
Akhirnya ia memilih untuk menjual saham Alibaba di Amerika Serikat (AS) dengan melantai di Bursa New York. Perusahaan dari Tiongkok ini memasang kisaran harga saham perdananya antara US$ 66-68 per lembar, naik dari patokan sebelumnya yaitu US$ 60-66 per lembar.Β
(ang/hds)











































