Dolar 'Perkasa' di Rp 12.000, Jokowi Effect Sudah Berakhir?

Dolar 'Perkasa' di Rp 12.000, Jokowi Effect Sudah Berakhir?

- detikFinance
Kamis, 18 Sep 2014 11:58 WIB
Dolar Perkasa di Rp 12.000, Jokowi Effect Sudah Berakhir?
Presiden dan wakil presiden terpilih, Joko Widodo-Jusuf Kalla
Jakarta - Pasar keuangan Indonesia sempat mengalami euforia kala pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla ditetapkan sebagai pemenang dalam pemilihan presiden (pilpres) 2014. Namun fenomena yang disebut 'Jokowi Effect' tersebut ternyata tak berlangsung lama.

Beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tengah dalam tren melemah. Mengutip data Reuters, saat ini dolar diperdagangkan di posisi Rp 12.020. Ini merupakan level terlemah sejak 26 Juni 2014, yang kala itu dolar sempat berada di posisi Rp 12.098.

Menurut Destry Damayanti, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), saat ini Jokowi Effect justru tengah memasuki tahap baru. Investor menunggu kepastian susunan kabinet Jokowi-JK.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pasar menantikan apakah Jokowi punya keleluasaan dalam memilih orang-orang yang profesional dan kredibel di kabinetnya nanti," katanya kepada detikFinance, Kamis (18/9/2014).

Sebelumnya, Jokowi menyebutkan bahwa pemerintahannya akan mengusung 34 kementerian. Sebanyak 18 menteri akan berasal dari kalangan profesional dan 16 dari profesional partai politik.

"Market akan melihat bagaimana 16 orang itu. Apakah rekam jejaknya baik, kompetensinya bagus, dan sebagainya," tutur Destry.

Jika kabinet Jokowi-JK sudah diumumkan dan hasilnya memuaskan, menurut Destry, pelaku pasar akan kembali bergairah. Rupiah pun berpeluang untuk menguat.

Selain soal kabinet, lanjut Destry, investor juga masih menantikan kepastian soal wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. "Kenaikan harga sepertinya sulit dilakukan tahun ini karena pemerintahan yang sekarang menegaskan tidak ingin ada intervensi," ujarnya.

Dengan kebijakan BBM yang belum jelas, tambah Destry, pasar keuangan Indonesia jadi rentan terhadap gejolak. "Market kita masih shallow (dangkal), sehingga kalau ada guncangan sedikit saja mudah terpengaruh," katanya.

(hds/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads