Beragam Tanggapan Soal Rupiah yang 'Tiarap' di Hadapan Dolar AS

Beragam Tanggapan Soal Rupiah yang 'Tiarap' di Hadapan Dolar AS

- detikFinance
Jumat, 19 Sep 2014 10:40 WIB
Beragam Tanggapan Soal Rupiah yang Tiarap di Hadapan Dolar AS
Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali terpaksa tunduk di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Dolar AS kemarin begitu perkasa hingga menembus Rp 12.000.

Pelemahan rupiah tak lain disebabkan oleh kepanikan para pelaku pasar keuangan. Terkait dengan rencana kebijakan Bank Sentral AS The Fed yang akan menaikkan suku bunga pada tahun depan.

Kondisi ini memang sudah terprediksi sebelumnya. Menyusul perbaikan ekonomi AS yang menjadi landasan awal Bank Sentral untuk menggenjot suku bunga lebih tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia pun bukan satu-satunya negara yang terkena dampak. Ada negara Brazil, Turki, Afrika Selatan dan India juga bernasib sama atas mata uangnya yang ditekuk oleh dolar.

Berdasarkan rangkuman detikFinance, Jumat (19/9/2014), berikut beragam pandangan soal pelemahan rupiah:

Menkeu Chatib Basri Sebut RI Negara Rapuh

Menteri Keuangan Chatib Basri menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah merupakan akibat dari kebijakan moneter dari Bank Sentral AS The Fed soal suku bunga. Meski baru rencana namun memberikan pengaruh terhadap investor.

"Normalisasi monetary policy di AS punya pengaruh," ujarnya dalam pesan singkatnya kepada detikFinance.

Pelemahan juga tak hanya terjadi pada rupiah. Akan tetapi juga negara lain yang termasuk dalam lima negara dengan ekonomi rapuh atau fragile five. Yaitu India, Turki, Brazil, Afrika Selatan.

"Bahwa saat yang sama the fragile five semua terpukul. India, Turki, Brazil, Afrika Selatan, rupiah semuanya jatuh," ujarnya.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo : Itu Wajar

Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia, pelemahan mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia. Sehingga dapat dikatakan sebagai hal yang wajar.

"Kita lihat terjadi pelemahan di regional dan juga di Indonesia ada pelemahan, itu satu hal yang wajar. Saya ingin kita tetap tenang karena ini satu kondisi yang banyak dipengaruhi oleh kondisi dunia," kata Agus kala ditemui di gedung BI.

Dolar yang perkasa, lanjut Agus, dipicu oleh keputusan bank sentral AS (The Federal Reserves) yang mempertahankan suku bunga.

"Tetapi di situ sudah dikatakan bahwa proyeksi kondisi tingkat bunga Fed itu akan sedikit berubah di akhir 2015 dari yang tadinya di 1,125% sudah mulai meningkat menjadi 1,375%. Kondisi itu direspons oleh dunia dengan berbeda," paparnya.

Investor, tambah Agus, ada yang mengurangi portofolio di pasar keuangan negara-negara berkembang. Instrumen jangka panjang diubah menjadi jangka pendek.

"Itu berdampak kepada dunia. Kita lihat terjadi pelemahan di regional dan juga di Indonesia. Saya ingin sampaikan bahwa kondisi yang berkembang di dunia sudah kita antisipasi dari 6 bulan sebelum ini," kata Agus.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara : 'Indonesia harus Hati-hati'

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menilai, pelemahan tersebut merupakan dampak dari respons pasar terhadap rencana kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS), yaitu The Fed pada tahun depan. Ini bukan masalah ringan.

"Ini adalah tantangan yang besar. Indonesia harus hati-hati, jangan anggap ini masalah ringan," ujar Mirza.

Periode kenaikan suku bunga menjadi menjadi tahapan baru. Setelah beberapa waktu lalu melewati penarikan stimulus quantitative easing yang berakhir di Oktober 2014. Pelaku pasar dihadapkan dengan pertanyaan kapan itu akan direalisasi.

"Kita masuk pada periode menunggu suku bunga Amerika akan naik, kapan akan naik dan memulai pasar tanpa stimulus lagi" sebutnya.

Negara berkembang adalah sasaran empuk atas dampak kebijakan moneter tersebut. Apalagi negara dengan pasar keuangan yang dangkal. Seperti salah satunya adalah Indonesia.

"Negara dengan pasar valas yang dangkal, maka fluktuasi akan lebih terasa, Yang angka makronya belum baik. Defisit anggaran dan transaksi berjalan masih cukup tinggi, ya lebih terasa," paparnya.

Pengamat ekonomi : Pasar Tunggu Kabinet dan Program Jokowi

Destry Damayanti, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), saat iniJokowi Effect justru tengah memasuki tahap baru. Investor menunggu kepastian susunan kabinet Jokowi-JK.

"Pasar menantikan apakah Jokowi punya keleluasaan dalam memilih orang-orang yang profesional dan kredibel di kabinetnya nanti," katanya kepada detikFinance.

Sebelumnya, Jokowi menyebutkan bahwa pemerintahannya akan mengusung 34 kementerian. Sebanyak 18 menteri akan berasal dari kalangan profesional dan 16 dari profesional partai politik.

"Market akan melihat bagaimana 16 orang itu. Apakah rekam jejaknya baik, kompetensinya bagus, dan sebagainya," tutur Destry.

Jika kabinet Jokowi-JK sudah diumumkan dan hasilnya memuaskan, menurut Destry, pelaku pasar akan kembali bergairah. Rupiah pun berpeluang untuk menguat. Pasar pun juga menunggu kebijakan strategisnya. Terutama soal kenaikan harga BBM subsidi.
Halaman 2 dari 5
(mkl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads