Menurut David Sumual, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), fluktuasi nilai tukar rupiah kali ini disebabkan oleh impor yang masih tinggi. Selain itu, pelemahan rupiah juga dipicu oleh peningkatan kebutuhan valas akibat pembayaran utang luar negeri swasta jatuh tempo.
Saat ini, lanjut David, masih banyak perusahaan yang tidak menerapkan lindung nilai (hedging) terhadap utang valasnya. Akibatnya, butuh rupiah yang lebih banyak untuk membayar utang luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh David menjelaskan, selain soal tingginya impor, pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor domestik. Di antaranya ketidakpastian kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Meskipun ada wacana menaikkan harga BBM, namun sejauh ini belum ada kepastian.
Dari faktor eksternal, rencana Bank Sentral AS The Fed untuk menaikkan suku bunga juga belum jelas. Hal inilah yang mendorong rupiah ikut melemah.
"Jangka pendek masih soal kepastian The Fed. Kalau dalam negeri ketidakpastian kenaikan BBM dan kepastian politik terkait koalisi partai seperti apa," terang dia.
Soal politik, David mengungkapkan, pasar keuangan masih akan menunggu pembentukan kabinet baru. Pemilihan sosok yang tepat akan membantu penguatan rupiah dan arah gerak IHSG.
"Yang dilihat prioritas arah kebijakan ke depan. Ekspektasi pengusaha dan investor pemerintah saat ini akan lincah, cepat tanggap, responsif, dan antisipatif. Kabinetnya akan lebih banyak non partai. Tapi posisi Jokowi belum kuat karena masih minoritas sehingga keputusan di parlemen akan susah. Yang lebih penting kompetensi orangnya, kabinet ekonomi harus dari non partisan agar tidak diganggu kepentingan," papar dia.
Penguatan rupiah dan IHSG juga akan lebih terdorong jika ada partai politik yang ikut bergabung untuk menambah suara fraksi pendukung Jokowi-JK di parlemen.
Terkait itu, David memperkirakan pergerakan rupiah sebelum pelantikan presiden terpilih masih akan bergerak di rentang Rp 11.900-Rp 12.100 per dolar AS, sementara hingga akhir tahun bisa berada di posisi Rp 11.800-Rp 12.000 per dolar AS. Sedangkan IHSG akan berada di level 5.300 pada akhir tahun dan di tahun depan bisa menembus angka 5.500-5.800.
"Ini kalau banyak sentimen positif dan kebijakan pemerintah pro bisnis sehingga pengusaha bisa menggenjot ekspansi," tutur David.
(drk/hds)











































