Harga BBM Naik Bikin Rupiah 'Perkasa', Ini Penjelasannya

Harga BBM Naik Bikin Rupiah 'Perkasa', Ini Penjelasannya

- detikFinance
Minggu, 21 Sep 2014 13:22 WIB
Harga BBM Naik Bikin Rupiah Perkasa, Ini Penjelasannya
Jakarta - Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves/The Fed berencana untuk menaikkan suku bunga seiring pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam. Langkah ini menyebabkan investor global berbondong-bondong membeli aset dalam dolar AS, karena selain aman juga bunganya semakin menarik.

Negara-negara berkembang termasuk Indonesia kena dampaknya. Arus modal keluar menyebabkan pelemahan nilai tukar, tidak terkecuali rupiah yang sempat menyentuh level Rp 12.000 per dolar AS.

Berbagai kalangan, termasuk Bank Indonesia (BI), menyarankan agar pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi agar rupiah bisa menguat lagi. Apa hubungan kenaikan harga BBM dengan penguatan rupiah?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Sekuritas, mencoba memberikan gambarannya. Selain kebijakan The Fed, pelemahan rupiah juga didorong oleh tingginya kebutuhan dolar untuk impor, khususnya impor minyak dan BBM.

Sebagai infomasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor migas Indonesia pada Juli 2014 sebesar US$ 4,15 miliar. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu US$ 3,39 miliar.

Impor migas didominasi hasil minyak, yang salah satunya BBM. Pada Juli 2014, impor hasil minyak tercatat US$ 1,39 miliar. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu US$ 2,03 miliar.

BBM hasil impor ini kemudian dijual di bawah harga pasar, karena ada subsidi yang tahun ini dianggarkan Rp 246,5 triliun. Harga BBM yang murah membuat masyarakat boros dan impor BBM terus melonjak.

Impor BBM yang tinggi menyebabkan pasokan valas di dalam negeri terkuras, dan rupiah pun melemah.

"Jadi kalau ingin rupiah menguat, impor harus dikurangi. Caranya adalah menaikkan harga BBM," kata Lana kepada detikFinance, Minggu (21/9/2014).

Kenaikan harga, lanjut Lana, akan membuat masyarakat berpikir ulang untuk boros BBM bersubsidi. Konsumsi akan turun, sehingga impor juga ikut turun.

Selain itu, tambah Lana, kenaikan harga BBM bersubsidi juga berdampak pada sentimen positif di pasar keuangan. Investor yakin bahwa pemerintah berani mengalihkan subsidi untuk anggaran yang lebih produktif. Investor pun optimistis pemerintah akan punya dana lebih untuk membangun infrastruktur sehingga ekonomi akan semakin kinclong.

"Dorongan rupiah untuk menguat juga harus dilakukan dengan pendalaman pasar keuangan. Menjadi tugas BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membuat pasar lebih menarik untuk investor dalam dan luar negeri," kata Lana.

(mkl/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads