Berdasarkan data Reuters, dolar AS saat penutupan pasar tercatat Rp 12.145. Menguat dibandingkan kala pembukaan pasar yaitu Rp 12.090.
Sementara data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menyebutkan dolar AS di posisi Rp 12.120. Menguat dibandingkan akhir pekan lalu yaitu Rp 12.007.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"The Fed (bank sentral AS) kelihatannya semakin pasti untuk menaikkan suku bunga. Mungkin lebih cepat dari perkiraan sebelumnya," katanya saat ditemui di Gedung DPR/MPR/DPD, Senin (29/9/2014).
Investor, lanjut Chatib, merespons isu tersebut dengan melepas aset-aset di berbagai negara (terutama negara berkembang) dan kembali memburu instrumen berbasis dolar AS. Akibatnya, dolar AS pun menguat dibandingkan mata uang negara-negara lain.
"Mata uang Turki melemah begitu juga India dan Brasil. Artinya fenomena ini nggak cuma terjadi di Indonesia," tegasnya.
Sementara faktor politik seperti disahkannya mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) oleh DPRD, tambah Chatib, tidak banyak mempengaruhi. Dia menilai sentimen pasar lebih dipengaruhi oleh perkembangan di AS.
"Rupiah, rupee India, lira Turki, dan sebagainya jatuh. Jadi ini fenomena global, nggak ada urusan dengan Pilkada. Penyebabnya adalah rencana The Fed untuk menaikkan bunga lebih cepat," terang Chatib.
Juniman, Ekonom BII, mengemukakan hal senada. Menurutnya, pelemahan rupiah kali ini merupakan imbas dari situasi pasar keuangan global.
"Jadi sebenarnya bukan rupiah yang melemah, tapi dolar yang bullish. Buktinya mata uang regional cenderung melemah semua," kata Juniman.
Juniman menilai pelaku pasar tidak terlalu memperhatikan Pilkada DPRD. Serupa dengan Chatib, dia berpendapat pemulihan ekonomi dan rencana kenaikan suku bunga di AS adalah yang mempengaruhi pelemahan mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Pasar tidak terlalu merespons itu (Pilkada DPRD). Namun kebetulan saja bersamaan dengan situasi global di mana ekonomi AS pulih," jelasnya.
(hds/hen)











































