SBN Masih Dikuasai Asing, Chatib Ajak Investor Domestik Rajin Investasi

SBN Masih Dikuasai Asing, Chatib Ajak Investor Domestik Rajin Investasi

- detikFinance
Rabu, 01 Okt 2014 11:58 WIB
SBN Masih Dikuasai Asing, Chatib Ajak Investor Domestik Rajin Investasi
Jakarta - Porsi kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia masih tinggi. Hal ini menyebabkan pasar keuangan Indonesia tertekan.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, Indonesia perlu terus memperluas pasar obligasi domestik agar bisa meningkatkan porsi kepemilikannya. Dengan begitu, ketergantungan Indonesia terhadap asing bisa ditekan.

"Ada satu yang mesti dilakukan agar porsi asing menjadi lebih kecil, yaitu memperluas porsi domestik. Tiga bulan terakhir saya selalu membicarakan ini, mulai membiasakan menggaet pasar domestik. Indonesia harus bersiap dengan periode baru di mana The Fed akan menaikkan suku bunga mungkin lebih cepat. Salah satu cara mengurangi tekanan di pasar keuangan yaitu mengurangi ketergantungan pembiayaan dari luar," tegas Chatib di Hutan Kota Srengseng Jalan Haji Kelik, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, Rabu (1/10/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyebutkan, porsi asing di pasar sekunder domestik mencatatkan kepemilikan tertingginya pada 29 September 2014 mencapai Rp 447,7 triliun atau 37,33%.

"Porsi asing di pasar sekunder domestik Rp 447,7 triliun atau 37,33%, ini tertinggi sejak Desember 2012 yang hanya 32,98%," kata dia.

Menurutnya, tingginya porsi asing di pasar sekunder domestik menunjukkan tingginya minat investor asing terhadap investasi di Indonesia.

"Ini menunjukkan di satu sisi baik karena kepercayaan asing tinggi, misal ambil tenor 5 atau 10 tahun, itu artinya mereka percaya investasi di Indonesia akan oke di kurun waktu itu. Kalau investor asing appetite-nya tinggi, harusnya investor domestik juga gitu," terang dia.

Namun begitu, Chatib menjelaskan, tingginya porsi asing di surat utang negara ini juga berdampak negatif. Dengan didominasi asing, pembiayaan pemerintah akan sangat tergantung oleh asing. Hal ini bisa menekan pasar keuangan Indonesia.

"Tetapi dari segi ini pemerintah harus hati-hati karena kalau ada shock di luar, dana-dana akan pulang ke sana, kalau domestik kalau ada shock ya mereka akan di sini-sini saja. Ini bisa menyebabkan turbulence di pasar keuangan dan tekanan rupiah. Ini dilematis, appetite bond kita besar tapi risiko juga ada," ucapnya.

Terkait hal itu, Chatib mengaku terus berupaya untuk mengurangi porsi kepemilikan asing di surat utang negara melalui penerbitan obligasi ritel. Ini sebagai salah satu cara memperbesar porsi kepemilikan investor domestik.

"Berkali-kali kita SBN diturunkan, kenapa penting? Kalau SBN lebih kecil maka crowding out bisa di-handle. Ini langkah yang harus dilakukan agar makro terjaga. Kalau pembiayaan dari investor domestik diperbesar, maka akan meminimalisir volatilitas," pungkasnya.

(drk/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads