Prosentase Obligasi yang Gagal Bayar Masih Rendah
Selasa, 11 Jan 2005 14:06 WIB
Jakarta - Kualitas emiten yang menerbitkan obligasi dalam melakukan pembayaran kewajibannya sampai saat ini dinilai masih bagus. Jumlah obligasi yang gagal bayar relatif sedikit jika dibandingkan dengan total obligasi korporasi yang saat inimencapai Rp 59 triliun. "Kualitas emiten obligasi harus dilihat dari jumlah obligasi yang tercatat dan ternyata jumlah obligasi yang ditunda pembayarannya sangat sedikit dibandingkan total obligasi korporasi yang tercatat Rp 59 triliun, sehingga bisa diisolated," kata Dirut KSEI Benny Hariyanto di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Selasa,(11/1/2005). Sejak akhir tahun 2004 sampai saat ini tercatat tiga emiten yang terancam gagal bayar yaitu obligasi sub ordinasi PT Bank Global Internasional Tbk (BGIN) tahun 2003 senilai Rp 400 miliar, obligasi PT Bahtera Adimina Samudera Tbk (BASS) tahun 2000 senilai Rp 100 miliar, obligasi PT Barito Pacific Timber Tbk (BRPT) tahun 2002 Rp 400 miliar. Namun menurut Bennny, emiten-emiten tersebut hanya sebagian kecil saja yang dianggap gagal bayar jika dibandingkan jumlah obligasi korporasi secara keseluruhan. Sehingga hal tersebut dipastikan tidak akan mengganggu pasar obligasi yang ada saat ini. Maka itu Benny mengharapkan, emiten harus meningkatkan transparansinya mengenai kinerja dan kemampuannya untuk membayar bunga obligasi atau pokoknya. Emiten juga diwajibkan untuk melaporkan kemampuan membayar obligasinya paling lambat satu hari sebelum jatuh tempo. "Emiten harus transparan atau setidaknya wali amanat sebagai wakil dari investor harus aktif mencari informasi. Ini kan tidak kebanyakan kita tahunya dari media," katanya. Sedangkan Dirut BEJ, Erry Firmasyah di tempat yang sama mengatakan, emiten yang menerbitkan obligasi tetap harus memberikan penjelasan kepada bursa mengenai kondisi obligasinya meskipun hal tersebut tidak terkait langsung dengan transaksi saham. "Emiten kan ada tiga jenis, hanya menerbitkan obligasi, hanya menerbitkan saham atau keduanya. Apapun yang terjadi pada obligasi akan terjadi pada saham, karena setiap hal yang terjadi secara materiil akan mempengaruhi kinerja sahamnya," kata Erry. Beberapa obligasi yang akan mengalami jatuh tempo pada tahun 2005 diantaranya obligasi I PT Astra Agro Lestari Tbk tahun 2000 sebesar Rp 500 miliar ayang akan jatuh tempo pada 15 Mei 2005. Obligasi I PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) senilai Rp 1 triliun yang akan jatuh tempo pada 28 Januari 2005. Kedua manajemen perusahaan ini telah menyatakan kesanggupannya untuk pembayaran tersebut. Obligasi lain yang akan jatuh tempo pada tahun ini diantaranya obligasi I PT Indofood Sukses Makmur Tbk sebesar Rp 1 triliun dan jatuh tempo pada 12 Juli 2005.
(qom/)











































