Rupiah Anjlok Gara-gara Politik, Chatib Basri: Itu Hanya Jangka Pendek

Rupiah Anjlok Gara-gara Politik, Chatib Basri: Itu Hanya Jangka Pendek

- detikFinance
Senin, 06 Okt 2014 13:25 WIB
Rupiah Anjlok Gara-gara Politik, Chatib Basri: Itu Hanya Jangka Pendek
Jakarta - Politik dalam negeri sedang bergerak dinamis. Kubu Koalisi Merah Putih yang menguasai parlemen diperkirakan bisa mempersulit program-program pemerintahan baru pimpinan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi).

Pelaku pasar mencermati faktor ini dan menjadikannya sentimen negatif. Salah satu dampaknya adalah pelemahan nilai tukar rupiah.

Mengutip data Reuters, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini berada di posisi Rp 12.215 per dolar AS. Posisi rupiah yang terlemah dalam perdagangan hari ini adalah Rp 12.220 per dolar AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menteri Keuangan Chatib Basri mengakui pasar mencermati situasi politik dalam negeri. Namun, dia menilai sentimen negatif dari politik ini hanya akan berlangsung sesaat.

"Dampak politik itu short term. Relatif jangka pendek," ujarnya di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (6/10/2014).

Menurut Chatib, politik sebenarnya hanya sedikit mempengaruhi persepsi investor. Faktor yang lebih dominan adalah rencana kenaikan suku bunga di AS. Investor global cenderung melepas aset-aset di negara berkembang dan mengalihkan investasinya ke Negeri Paman Sam.

Dominannya faktor eksternal ini, lanjut Chatib, terlihat dari depresiasi kurs yang juga dialami oleh negara-negara lain seperti Brasil, India, Afrika Selatan, dan Turki.

"Kami tidak menutup mata, ada memang sentimen domestik. Tapi itu short term," imbuh Chatib.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memastikan instansinya akan tetap memantau kondisi pasar keuangan. BI siap melakukan intervensi bila diperlukan.

"BI tidak pernah meninggalkan pasar. Apabila perlu intervensi, tentu akan dilakukan secara terukur," kata Agus.

Dalam dua pekan terakhir, menurut Agus, pelemahan nilai tukar rupiah secara month to month maupun year to date adalah 0,12%. Penyebabnya selain faktor eksternal adalah situasi gejolak politik di dalam negeri.

(mkl/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads