Pemegang Saham Tidak Percaya Kinerja Tambang Grup Bakrie, Kenapa?

Pemegang Saham Tidak Percaya Kinerja Tambang Grup Bakrie, Kenapa?

- detikFinance
Senin, 06 Okt 2014 14:42 WIB
Pemegang Saham Tidak Percaya Kinerja Tambang Grup Bakrie, Kenapa?
Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengurangi penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue dari Rp 8 triliun menjadi hanya Rp 3,61 triliun.

Perseroan mengalami kekurangan permintaan (undersubscription) dan para kreditor tidak bersedia menerima pembayaran pinjaman dalam bentuk saham. Atas hal ini, salah satu pemegang saham BUMI mengomentari tidak terserapnya saham rights issue tersebut.

"Kita kurang percaya dengan kinerja direksi karena waktu itu harga penawaran di atas harga pasar. Sekarang harganya terus merosot. Kalau saat itu kita lakukan, maka kita rugi. Bagaimana manajemen melakukan suatu kebijakan atau aksi korporasi yang dapat menunjukkan kepercayaan kita. Kalau kepercayaan investor terhadap perseroan tinggi, ya mungkin akan banyak yang mau. Kita investor pasar modal wajar cari keuntungan," jelasnya di acara Public Expose Perseroan, Kawasan Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Senin (6/10/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tempat yang sama, salah seorang investor lain mengaku kecewa atas pembatalan rights issue tersebut.

"Seharusnya memberi keterangan secara jelas, kenapa kok dibatalkan, apa yang menyebabkan batal, ada apa," serunya.

Direktur Utama BUMI Ari Hudaya menanggapi pertanyaan tersebut. Menurutnya, alasan dibatalkannya penerbitan saham baru atau rights issue secara murni karena memang tidak ada yang menyerap.

"Saya mohon pengertiannya kepada para pemegang saham. Tidak ada pemegang saham yang men-support saya, kalian tidak percaya sama saya. Kritik saya terima, tapi tolong dibantu rasionalnya. Ini dibatalkan jelas karena mereka minta cash (tunai). Mau tidak dibatalkan bagaimana toh," katanya.

Seorang investor bernama Steven juga ikut protes. Dia meminta perseroan untuk menjelaskan alasan dibatalkannya rights issue untuk anggaran proyek Gallo dan Gorontalo Minerals. Masing-masing US$ 48 juta untuk proyek Gallo Oil dan US$ 32,58 juta untuk proyek PT Gorontalo Minerals.

"Di Gallo itu bikin harga saham naik dari Rp 300 ke Rp 1.000 tapi manajemen dibilang 11 tahun nggak ada keuntungan dari Gallo padahal jelas-jelas karena Gallo harga saham naik. Tapi kalau dulu bilang 11 tahun nggak ada keuntungan, kenapa sekarang mau masuk lagi ke Gallo, ada apa?," tanya Steven.

Ari pun mengomentari pertanyaan Steven. Menurutnya, Gallo punya potensi tinggi untuk bisa mendongkrak kinerja keuangan perseroan.

"Soal Gallo, berarti pemegang saham tidak percaya juga kepada saya. Saya sebagai direksi yang bertanggung jawab terhadap perusahaan akan coba bernegosiasi dengan para kontraktor karena tidak mudah mencari dana di sana. Di Gallo ada 2 blok besar, data belum bisa saya jelaskan. US$ 50 juta sekali bor. Saya tidak akan give up. Kalau berhasil, kita akan punya portofolio, insya Allah saya berhasil," kata Ari.

Ari berharap, tahun-tahun berikutnya kinerja perseroan bakal membaik seiring dengan membaiknya harga batu bara.

"Mudah-mudahan tahun depan harga tidak berubah, tidak turun lagi. Harga batubara kalori rendah saat ini masih drop. Permintaan batubara saat ini belum terlalu drop tapi penggunaan masih pelan. Sekarang ekonomi global banyak pengaruhnya. Saya masih optimis tapi tidak tahun ini tapi mungkin tahun depan kondisi ekonomi global akan membaik," pungkasnya.

(drk/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads