Politik Masih Gaduh, RI Agak Dijauhi Investor

Politik Masih Gaduh, RI Agak Dijauhi Investor

- detikFinance
Selasa, 07 Okt 2014 08:38 WIB
Politik Masih Gaduh, RI Agak Dijauhi Investor
Jakarta - Pasca pemilihan presiden (pilpres) dinamika politik nasiona terus terjadi. Mulai dari gugatan hasil pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK), sampai perebutan kursi-kursi di parlemen.

Kegaduhan politik ini menjadi sentimen negatif bagi para pelaku ekonomi. Dikhawatirkan, nantinya kebijakan pemerintahan baru pimpinan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) akan terganjal.

Kecemasan pelaku pasar sudah tercermin dari nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus dalam tren melemah. Dolar AS kini sudah menembus level Rp 12.200.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mata uang emerging markets (negara berkembang) lainnya memang juga melemah. Namun rupiah bisa dibilang sudah terlalu murah, jauh dari fundamentalnya yang di kisaran Rp 11.700 per dolar AS," kata David Sumual, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), kepada detikFinance, Selasa (7/10/2014).

Menurut catatan David, dalam 2 pekan terakhir rupiah sudah melemah sekitar 4%. "Kita termasuk yang melemah tajam," ujarnya.

Selain faktor global yaitu potensi kenaikan suku bunga AS, lanjut David, kegaduhan politik juga mempengaruhi persepsi investor. "Dalam jangka pendek, faktor politik ini memang jadi perhatian investor," tuturnya.

Kegaduhan politik ini, tambah David, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan investor global agak menjauhi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Dia menyebutkan, arus modal masuk (capital inflow) ke pasar keuangan Indonesia terus menurun dalam 3 bulan ini.

"Capital inflow pada Juli masih Rp 26 triliun. Kemudian Agustus turun jadi Rp 14 triliun, dan September turun lagi jadi Rp 6 triliun. Investor khawatir kegaduhan politik ini bisa mengganggu stabilitas pemerintahan Pak Jokowi," paparnya.

Oleh karena itu, David memperkirakan dalam jangka pendek dolar AS masih akan diperdagangkan di kisaran Rp 12.100-12.200. Cukup jauh dari titik fundamentalnya, sentimen negatiflah yang menyebabkan rupiah bisa terus melemah.

(hds/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads