Dalam 2 bulan terakhir, arus modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan Indonesia mengalami penurunan hingga 77% dari posisi Rp 26 triliun menjadi Rp 6 triliun. Salah satu penyebabnya adalah politik nasional yang masih agak gaduh, meski pemilihan presiden (pilpres) telah usai.
Hal tersebut dikemukakan oleh David Sumual, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), kepada detikFinance, Selasa (7/10/2014).
"Capital inflow Juli masih Rp 26 triliun. Kemudian Agustus turun jadi Rp 14 triliun, dan September turun lagi ke Rp 6 triliun. Ini capital inflow di obligasi korporasi, obligasi pemerintah, dan saham. Turunnya memang agak drastis," terangnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Valuasinya sudah terlalu mahal, sementara earnings (kinerja) masih belum jelas. Semua masih meraba-raba," kata David.
Faktor kedua, lanjut David, adalah kegaduhan politik nasional. Dikhawatirkan kebijakan pemerintahan baru pimpinan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) akan terjegal di parlemen yang dikuasai Koalisi Merah Putih.
"Misalnya reformasi fiskal dengan menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak) bersubsidi. Atau kebijakan-kebijakan terobosan lainnya," sebut David.
Dalam jangka pendek, David memperkirakan situasi politik belum akan tenang. Pasalnya, hingga kini belum ada titik terang peta koalisi politik.
David berharap gonjang-ganjing politik ini akan mereda pada 20 Oktober, saat Jokowi efektif memulai pemerintahannya. Diharapkan saat itu juga sudah terlihat koalisi pendukung Jokowi yang kuat dan efektif.
"Mudah-mudahan 20 Oktober ada kabar baik. Dengan begitu, sentimen negatif di market bisa mereda dan kembali bullish," katanya.
(hds/hen)











































