Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada A Tony Prasetiantono berpendapat, IHSG dan rupiah tidak akan jatuh lagi setelah Jokowi-JK resmi mengumumkan kabinetnya.
"Ini (IHSG dan rupiah) sudah mencapai level terendah dan tidak akan turun lagi, sudah bottom. Setelah ini tinggal menunggu kabinet. Masih ada harapan kalau kinerja kabinet bagus, parlemen mau apa?" ucap Tony saat acara BCA Indonesia Knowledge Forum III 2014 di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Jumat (10/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rupiah melemah karena sentimen negatif politik dalam negeri, bukan fundamental. Rupiah melemah karena parlemen. Sentimen global selama ini tidak sampai rupiah menabrak Rp 12.000, selalu bisa dijaga. Sekarang sudah melebihi itu, pasti sentimen dari parlemen," tegasnya.
Oleh karena itu, lanjut Tony, faktor domestik pula yang bisa membantu mendongkrak rupiah dan IHSG. "India punya perdana menteri baru dan dianggap baik, nilai tukarnya menguat dari 64 rupee per dolar menjadi 60 rupee per dolar. Harapan saya, faktor kabinet ini bisa mendorong rupiah juga," paparnya.
Tony memperkirakan rupiah kembali menguat setelah kabinet Jokowi terbentuk. Hingga akhir tahun, posisi ideal nilai tukar berada di level Rp 11.500 per dolar AS.
"Paling realistis di bawah Rp 12.000, idealnya Rp 11.500," katanya.
Sementara IHSG juga akan mengikuti tren penguatan rupiah. Diperkirakan IHSG akan kembali ke level 5.200 pada akhir tahun, dengan level psikologis di angka 5.000.
"Selain karena parlemen, IHSG jadi 4.900 karena outflow (arus modal keluar). Tapi IHSG akan kembali ke level psikologis di 5.000 bahkan bisa kembali ke 5.200 pada akhir tahun. Nggak ada alasan untuk meninggalkan Indonesia," tegas dia.
(drk/hds)











































