Demikian dikatakan pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono saat acara BCA Indonesia Knowledge Forum 2014 di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Jumat (10/10/2014).
"Rupiah pernah menyentuh level Rp 8.560, itu terkuat. Pertanyaannya, apakah bisa Jokowi mengembalikan rupiah ke Rp 9.000? Jawabannya tidak. Mau Jokowi, mau siapa pun yang jadi presiden, tidak mungkin bisa kembali ke angka itu karena AS tidak lagi melakukan quantitave easing (QE)," jelas dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rencananya 29 Oktober AS menghentikan QE. Investor luar merasa saatnya memegang dolar AS, sehingga rupiah melemah," ucap Tony.
Perburuan dolar AS, kata Tony, membuat dolar menjadi 'happening' di pasar dan sebaliknya bagi rupiah. Kejadian ini bisa disebut sebagai Janet Yellen Effect, sama halnya saat Jokowi berhasil membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah melambung yang dikenal dengan sebutan Jokowi Effect.
"Kita tidak boleh terlalu optimistik rupiah bisa Rp 11.200 seperti saat diumumkan kemenangan Pak Jokowi sebagai presiden, itu tidak akan terulang karena kondisinya berbeda. Jokowi dilantik nanti pada saat yang tidak favorit, berdekatan dengan penghentian stimulus AS. Jadi setelah Jokowi Effect, nanti akan ada Janet Yellen Effect," papar Tony.
(drk/hds)











































