Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), mengatakan isu kenaikan suku bunga di AS mendominasi sentimen di pasar keuangan domestik. "Situasi di mana AS antara naik tahun depan atau nggak itu mengganggu sekali," ujarnya kala ditemui di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Senin (13/10/2014).
Bagi Indonesia, lanjut Mirza, kenaikan suku bunga di AS akan mempengaruhi aliran modal asing. Untuk saat ini, ketergantungan Indonesia terhadap modal asing sangat besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BI mencatat hingga akhir Mei 2014 utang luar negeri perusahaan swasta di Indonesia mencapai US$ 151,5 miliar. Naik 9,7% dari periode yang sama tahun lalu.
Tahun ini, dana asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia sampai September mencapai US$ 14,62 miliar (Rp 175,44 triliun) . Naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu US$ 401 juta (Rp 4,81 triliun).
"Indonesia adalah emerging market, negara yang butuh financing dari luar yaitu dolar. Kita tidak punya kemewahan seperti AS yang bisa cetak uang. Ketergantungan kita terhadap luar negeri itu besar, sehingga funding dari eksternal harus dipastikan tetap ada," jelasnya.
Isu kenaikan suku bunga di AS, tambah Mirza, menyebabkan investor asing ragu-ragu untuk masuk ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Oleh karena itu, dia mengistilahkan Indonesia tersandera isu kenaikan bunga di AS.
"Negara ini dependensinya ke investor asing besar sekali. Kita tersandera tren suku bunga AS yang akan naik tapi nggak jelas kapan," tegasnya.
Agar Indonesia tak lagi terlalu tergantung modal asing, Mirza menyebutkan pasar keuangan dalam negeri harus diperdalam. Caranya adalah memperbanyak instrumen investasi di pasar modal dan memperluas basis investor.
"Makanya BI mendorong market deepening. Nantinya bisa saja funding itu datang dari asuransi, dana pensiun, dan sebagainya," tuturnya.
(hds/hen)











































