Namun, pelemahan dolar itu belum berdampak pada transaksi di lokasi-lokasi penukaran valuta asing. Seperti di Indo Money Changer yang berlokasi di bilangan Sabang, Jakarta Pusat siang ini, Jumat (17/10/2014).
"Masih sepi-sepi saja, yang tukar (menukar dolar) sepi, yang beli juga sepi. Nggak ramai," ujar seorang petugas wanita saat detikFinance menyambangi tempat tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka mungkin masih tunggu apakah harga akan naik lagi atau malah turun. Kan biasa orang suka beli di harga murah dan jual sekaligus pas harganya sedang tinggi," jelasnya.
Saat ini lanjut dia, di tempat penukaran valasnya berlaku harga beli dolar AS di Rp 12.100 dan harga jual Rp 12.200.
"Kalau merkea jual ke kita, kita beli Rp 12.100. Kalau mereka beli, kita jual Rp 12,200," tuturnya.
Ia mengatakan, gejolak politik yang terjadi beberapa waktu belakangan ini cukup mempengaruhi aktifitas transaksi valas.
"Waktu terakhir dolar Rp 12.100 itu banyak yang beli, sampai lebih US$ 10.000 per hari. Setelah ada gonjang-ganjing Prabowo, KMP (Koalisia Merah Putih) yang di DPR itu sampai sekarang sepi. Yang jual sepi, yang beli sepi," tandasnya.
Setelah beberapa hari bergerak di level Rp 12.200, hari ini nilai tukar dolar AS mampu ditekan hingga mendekati kisaran Rp 12.100 per dolar AS.
Mengutip data perdagangan Reuters, dolar AS saat ini diperdagangkan di posisi Rp 12.145. Posisi dolar AS terlemah hari ini ada di level Rp 12.225 per dolar AS.
Dari dalam negeri, hari ini ada sentimen positif dari bidang politik yaitu pertemuan antara presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dengan pimpinan Koalisi Merah Putih (KMP), Prabowo Subianto. Ini merupakan pertemuan pertama mereka setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.
(ang/ang)











































