Komisaris Minta Manajemen Semen Gresik Gelar Paparan Publik

Komisaris Minta Manajemen Semen Gresik Gelar Paparan Publik

- detikFinance
Kamis, 13 Jan 2005 14:49 WIB
Jakarta - Komisaris Independen PT Semen Gresik Tbk (SMGR) Tjuk Sukiadi meminta direksi perseroan untuk melakukan publik ekspose menjelaskan kepada publik mengenai sengketa yang terjadi antara pemegang saham yakni pemerintah dengan Cemex.Direksi diminta menjelaskan kepada seluruh pemegang saham opsi apa saja yang akan diberikan ke Cemex sehubungan dengan ditundanya tuntutan Cemex di arbritase internasional senilai US$ 500 juta."Publik ekspose bisa dijadikan surat atau keterangan resmi. Selama ini saya belajar drai Cemex sesuatu yang tidak resmi dianggap rumor oleh Cemex. Ini juga supaya pemegang saham tahu bagaimana posisi perundingan antara pemerintah dan Cemex," kata Tjuk Sukiadi, Komisaris Independen Semen Gresik.Tjuk mengungkapkan hal itu disela rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Kamis (13/1/2005).Saat ini kata Tjuk, beredar beberapa opsi yang ada di masyarakat bahwa pemerintah akan menyelesaikan sengketa dengan Cemex diluar jalur pengadilan (out of court) dan arbritase dengan tuntutan Cemex ke pemerintah sebesar US$ 500 juta.Opsi tersebut seperti pemerintah akan melepas kepemilikan mayoritas saat ini sebesar 51 persen untuk diberikan sebagian ke Cemex. Opsi lainnya pemerintah dikabarkan akan memberikan pabrik Tuban I,II, dan III kepada Cemex sebagai ganti rugi kepada Cemex.Opsi-opsi tersebut kata Tjuk, harus diketahui oleh publik dan untuk melihat bagaimana pendapat dari pemegang saham di luar Cemex. Bagaimanapun lanjut dia, pemerintah seharusnya tetap mempertahankan kepemilikan saham 51 persen di SMGR dan tidak memberikan pabrik Tuban I,II dan III kepada Cemex."Yang kami dengar kepemilikan pemerintah akan tetap sebesar 51 persen di SMGR dengan catatan SMGR tanpa pabrik Tuban I,II dan III. Padahal ketiga pabrik ini adalah andalan Semen Gresik, karena dua pabrik yang ada di SMGR tidak berfungsi hanya sebagai refenary plant," kata Tjuk.Dia menilai sangat aneh atas keputusan pemerintah yang memilih diluar jalur pengadilan, padahal dalam sidang arbritase tim perunding pemerintah dikabarkan mampu mematahkan sebagian argumentasi dari Cemex. "Kata Pak Satriyo (Dirut SMGR) sebagian besar argumentasi Cemex dapat dipatahkan oleh tim perunding kita. Tapi kenapa kok setelah diselesaikan di luarpengadilan posisi kita yang kalah," ujarnya.Harga SahamTjuk juga melihat naiknya harga saham SMGR di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dalam satu bulan terakhir ini tidak terlepas dari kepentingan Cemex. Saham SMGR yang semula di level Rp 9.000 per saham saat ini melesat ke level Rp 18.000 dan pernah menyentuh level Rp 20.000.Menurut Tjuk melihat pesatnya harga saham SMGR ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, agar pemegang saham minoritas menjual sahamnya karena harga sudah tinggi lalu dibeli oleh Cemex. Kedua, menekan pemerintah karena jika melakukan buy back saham Cemex harus dibeli dengan harga mahal. "Biasanya kalau setelah RUPS saham SMGR turun tapi ini terus naik. Katanya ini karena manjemen akan melakukan stock split, padahal itu belum ada rencana kesana komisaris belum dilaporkan," ujarnya.Sementara Direktur Pemasaran Semen Gresik Hasan Baraja menegaskan, opsi yang paling baik dilakukan pemerintah adalah melakukan buy back terhadap saham Cemex yang saat ini sekitar 25 persen. Menurut dia, dari keuntungan di Semen Padang, Semen Gresik dan Semen Tonasa untuk melakukan buy back senilai US$ 400 juta keuangan perseroan sangat mampu untuk melakukannya. "Tapi itu keputusan pemerintah buka aksi korporasi," kata Hasan. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads