Awalnya Incar Rp 4,9 Triliun, Blue Bird Cuma Dapat Rp 2,4 Triliun

Awalnya Incar Rp 4,9 Triliun, Blue Bird Cuma Dapat Rp 2,4 Triliun

- detikFinance
Rabu, 05 Nov 2014 12:58 WIB
Awalnya Incar Rp 4,9 Triliun, Blue Bird Cuma Dapat Rp 2,4 Triliun
Jakarta - PT Blue Bird Tbk (BIRD) hanya meraup dana Rp 2,4 triliun saat penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO). Targetnya ini jauh berkurang dari prediksi awal sebesar sebesar-besarnya Rp 4,9 triliun.

Pada proses bookbuilding, operator taksi berwarna biru itu memasang rentang harga IPO Rp 7.200-9.300 per lembar. Jumlah saham yang akan dilepas ke publik sebanyak 531.400.000 lembar saham atau 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Dengan demikian, seharusnya Blue Bird bisa meraup dana minimal Rp 3,8 triliun dan maksimal Rp 4,9 triliun. Namun perusahaan jasa transportasi terintegrasi itu akhirnya hanya mematok harga saham perdana Rp 6.500 per lembar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Waktu kita melakukan public expose memang disarankan target harga antara Rp 7.200 sampai Rp 9.300. Lalu kita melakukan roadshow dengan hasil yang sangat memuaskan pada kisaran yang kita tawarkan, di kisaran harga yang tadi disebutkan," kata Direktur Keuangan Blue Bird Robert R Rerimasie usai menggelar IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (5/11/2014).

"Sekitar awal Oktober memang pasar terjadi gejolak dan fluktuasi, jadi volatilitasnya
besar, ada ketidapastian ekonomi di Eropa dan beberapa negara, juga termasuk di kita kondisi politiknya," tambahnya.

Akhirnya, perusahaan mempertimbangkan kembali harga saham perdana yang akan dipakai saat IPO. Hasilnya, harganya turun cukup dalam.

"Kami waktu itu mempertimbangkan bahwa sangat penting bagi kami bukan hanya mengejar harga tertinggi tetapi memberikan kenyamanan kepada calon investor, kalau mereka membeli saham Blue Bird kita harapkan mereka jangan mengalami suatu kerugian. Jadi ini benar-benar karena pertimbangan pasar yang ada saat itu," ujarnya.

Sekitar 50% dari dana IPO akan digunakan untuk membiayai belanja modal termasuk pembelian kendaraan dan akuisisi pool, sekitar 35,71% untuk melunasi pinjaman, dan sekitar 14,29% akan digunakan sebagai modal kerja perseroan dan entitas anak usaha.

PT Credit Suisse Securities Indonesia, PT Danareksa Sekuritas, dan PT UBS Securities Indonesia ditunjuk menjadi joint global co-ordinators dan bookrunners dalam aksi korporasi ini.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads