First State Keluarkan Reksa Dana Saham Rp 200 Miliar
Senin, 17 Jan 2005 13:09 WIB
Jakarta -
PT First State Investment Indonesia (FSI) kembali meluncurkan reksa dana First State IndoEquity Sectoral Fund dengan jumlah Rp 200 miliar atau sekitar 200 juta unit penyertaan.Dalam siaran pers yang diterima detikcom, Senin (17/1/2005), reksa dana ini harga perdananya Rp 1000 dan nilai minimum investasi Rp 10 juta. Dalam pemasarannya FSI Indonesia akan bekeja sama dengan Bank Commonwealth, Standard Chartered Bank, Bank Niaga dan Bank BNI. President Director FSI Indonesia, Legowo Kusumonegoro menjanjikan reksa dana ini memiliki keunikan yakni investasinya akan dialokasikan hanya pada sektor-sektor yang dinilai unggul dan tidak harus sama dengan komposisi saham IHSG. "Pemilihan tema sektoral ini akan membantu pemilihan aset investasi yang dilakukan secara bottom up dengan menitikberatkan pada analisa fundamental yang mendalam," ujar Legowo.Rencananya komposisi investasi reksa dana ini adalah minimum 80 persen dan maksimum 100 persen pada efek bersifat ekuitas yakni saham yang dijual dalam penawaran umum dan dicatatkan di Bursa Efek baik dalam Rupiah maupun valas.Minimum 0 persen dan Maksimum 20 persen pada instrumen pasar uang yakni Surat Utang Negara yang mempunyai jatuh tempo kurang dari satu tahun dan diterbitkan berdasarkan peraturan yang berlaku di Indonesia baik dalam Rupiah atau valas.Minimum 0 persen dan Maksimum 20 persen pada efek bersifat utang yaitu Surat Uang Negara atau obligasi yang telah dijual dalam penawaran umum dan dicatatkan di bursa baik dalam Rupiah atau valas. Senior Investment Manager FSI, Kennyarso Soejatman optimis reksa dana saham dapat memberikan tingkat pengembalian yang menarik pada tahun 2005. "Jika Rupiah dan suku bunga stabil di tahun 2005, maka kenaikan IHSG hingga level 1100-1200 masih sangat dimungkinkan," ujarnya.Selain itu, lanjut dia, pertumbuhan laba perusahaan di Indonesia masih diatas rata-rata, disamping beberapa sektor masih menjanjikan dan juga banyak saham yang saat ini valuasinya masih murah dan berpotensi tumbuh."Melemahnya dolar AS masih menjadi faktor utama aliran likuiditas dari pasar AS ke pasar di luar AS, antara lain ke Asia. Isamping pengembangan infrastruktur di Indonesia akan memicu pertumbuhan sektor rill dan meningkatkan peran investasi asing di Indonesia," kata Kennyarso.FSI Indonesia yang merupakan anak perusahaan The Colonial First state Investment Group, Australia sebelumnya pada 18 Oktober 2004 lalu juga telah menerbitkan First State Arjuna Fund. Selain itu pada 9 Pebruari 2004 juga telah meluncurkan First State Indonesian Bond Fund.
(qom/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































