Bengkaknya kerugian itu akibat dari tingginya kenaikan beban operasional maskapai pelat merah tersebut. Pendapatan usaha Garuda tercatat US$ 2,8 miliar dalam sembilan bulan pertama tahun ini, sebelumnya hanya US$ 2,6 miliar.
Pendapatan terbesar disumbang oleh penerbangan berjadwal dengan omzet US$ 2,4 miliar, dari sebelumnya US$ 2,3 miliar di periode yang sama tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini karena mengingat belum pulihnya kondisi makro ekonomi global, faktor masih tingginya harga bahan bakar yang berdampak pada meningkatnya biaya operasional, serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang mencapai lebih dari 20%," kata Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar dalam siaran pers, Kamis (13/11/2014).
Maskapai penerbangan pelat merah ini meraih laba dari selisih nilai tukar (kurs) senilai US$ 6,6 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya rugi kurs US$ 37 juta.
Namun laba kurs ini menjadi tidak terasa setelah Perseroan mencatat beban lain-lain yang melonjak tinggi, dari hanya US$ 1,7 juta tahun lalu menjadi US$ 8,5 juta.
Akhirnya maskapai BUMN ini pun membukukan rugi usaha sebesar US$ 250 juta di akhir September 2014 dari posisi sebelumnya laba usaha US$ 29,4 juta di tahun lalu.
(ang/hen)











































