Dicap 'Gagal Bayar' Utang, Saham Tambang Bakrie Langsung Anjlok

Dicap 'Gagal Bayar' Utang, Saham Tambang Bakrie Langsung Anjlok

- detikFinance
Kamis, 04 Des 2014 07:45 WIB
Dicap Gagal Bayar Utang, Saham Tambang Bakrie Langsung Anjlok
Foto: dok. Bumi Resources
Jakarta - Standard & Poor's (S&P) menurunkan peringkat utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi default (D) dari sebelumnya selective default (SD).

Lembaga pemeringkat internasional itu memprediksi perusahaan Grup Bakrie itu tidak akan menyelesaikan utang-utangnya setidaknya dalam enam bulan ke depan.

"Kami menurunkan peringkat utang korporasi Bumi Resources menjadi D karena kami tidak melihat adanya perkembangan utang-utangnya setidaknya dalam enam bulan ke depan. Menurut kami ini sudah gagal bayar," kata Analis S&P Vishal Kulkarni kemarin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut fakta mengenai penurunan peringkat ini, seperti dirangkum detikFinance, Kamis (4/12/2014).

Gara-gara Tiga Anak Usaha Dapat Moratorium

Tiga anak usaha BUMI pekan lalu sudah mendapat moratorium dari Pengadilan Singapura untuk menyelesaikan utang-utangnya. Perseroan juga sudah meminta perlindungan dari kreditur di AS.

Tiga anak usahanya yang dapat moratorium adalah Bumi Capital Pte Ltd, Bumi Investment Pte Ltd, dan Enercoal Resources Pte Ltd. Ketiganya merupakan perusahaan yang berbasis di Singapura.

Tiga perusahaan ini menanggung utang sebesar US$ 1,37 miliar atau sekitar Rp 16,4 triliun (kurs Rp 12.000/US$). BUMI juga sudah gagal membayar bunga dari utang senilai US$ 700 juta yang jatuh tempo Oktober 2017 awal bulan lalu.

Sahamnya Anjlok 5,8% Sehari

Pada penutupan perdagangan Rabu kemarin saham anak usaha Grup Bakrie itu berakhir di level Rp 81 per lembar, anjlok 5,81% dibandingkan posisi kemarin di Rp 86 per lembar.

Sahamnya cukup aktif diperdagangkan, sebanyak 2.488.953 lot saham diperdagangkan 4.073 kali senilai Rp 20,8 miliar. Sahamnya banyak dilepas investor asing.

Sudah Terpangkas 73% Tahun Ini

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami tekanan yang cukup banyak tahun ini. Sampai-sampai sahamnya anjlok hingga 73% dari awal tahun sampai hari ini.

Banyak sekali isu negatif yang hinggap di perusahaan tambang Grup Bakrie tersebut. Mulai dari kisruh saham dengan Nathaniel Rothschild di Bumi PLC (sekarang Asia Resource Minerals PLC), sampai jumlah utangnya yang fantastis sebesar Rp 44 triliun.

Seperti dikutip dari data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (3/12/2014). harga saham BUMI di akhir 2013 berada di level Rp 300 per lembar. Sahamnya terus berada di tren melemah sampai pada penutupan perdagangan hari ini Rp 81 per lembar.

Itu berarti sahamnya sudah anjlok 73% sejak awal tahun ini. Harga batu bara yang masih lesu juga memberi sentimen negatif.

Dulu Sahamnya Pernah Rp 8.750 selembar

Investor dan pelaku pasar modal sudah tidak asing dengan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Saham perusahaan tambang Grup Bakrie ini pernah menjadi market maker alias penggerak pasar di masa jayanya.

Saking likuidnya, sahamnya BUMI selalu bergerak dalam rentang yang lebar. Sejak IPO di tahun 1990 lalu di harga 4.500 per lembar, sahamnya sempat naik-turun dan sampai di posisi tertingginya sepanjang masa di Rp 8.750 selembar.

Posisi intraday tertingginya itu diraih pada 10 Juni 2008. Pada penutupan perdagangan hari yang sama saham perusahaan tambang itu ditutup di Rp 8.150 per lembar.

Masih layakkah sahamnya dikoleksi?

Kepala Riset Woori Korindo Securities Reza Priyambada menilai predikat default tersebut tentunya menjadi sentimen negatif bagi perseroan. Tidak menutup kemungkinan, para pelaku pasar akan pasang kuda-kuda untuk berama-ramai meninggalkan perusahaan tambang milik Grup Bakrie tersebut.

"Ini sentimen negatif buat market. Pelaku pasar akan terpengaruh dengan ini. Pelaku pasar akan banyak melakukan aksi jual jadi harga akan turun," terang dia kepada detikFinance, Rabu (3/12/2014).

Reza menjelaskan, jika melihat kinerja perusahaannya, sebenarnya perseroan masih punya potensi untuk memperbaikinya. Potensi cadangan batu bara BUMI yang masih cukup tinggi memungkinkan perseroan mencatatkan kinerja lebih baik.

"Kalau melihat potensi cadangan batu baranya bagus, dia termasuk perusahaan tambang besar di Asia berdasarkan cadangan batu baranya. Pasar belum terlalu kondusif, cadangan batu bara besar tapi pendapatan belum naik, sementara biaya operasinya naik," katanya.

Selain itu, menurut Reza, proyeksi harga batu bara ke depan masih belum ada tanda-tanda membaik. Perekonomian global yang belum kondusif mempengaruhi gerak harga batu bara.
Halaman 2 dari 6
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads