Pengakuan Investor Pemegang 4.000 Lot Saham Tambang Bakrie

Pengakuan Investor Pemegang 4.000 Lot Saham Tambang Bakrie

- detikFinance
Jumat, 05 Des 2014 08:26 WIB
Pengakuan Investor Pemegang 4.000 Lot Saham Tambang Bakrie
Jakarta - Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bukan lagi 'saham sejuta umat' seperti di masa jayanya, yaitu sebelum krisis ekonomi global 2008. Saham perusahaan tambang Grup Bakrie itu sudah hampir tiarap.

Banyak investor berharap harga sahamnya bisa naik lagi, kalau bisa sampai ke titik tertingginya sepanjang masa di Rp 8.750 per lembar. Tapi apa mau dikata, pada penutupan perdagangan kemarin sahamnya ditutup di Rp 78 per lembar.

Salah satu trader di di Bursa Efek Indonesia (BEI), Zainal Tahir, mengaku tertarik membeli saham BUMI setelah ramai-ramai pembicaraan soal 'Bakrie Tujuh' yaitu tujuh perusahaan Bakrie yang pada periode 2007-2008 menguasai perdagangan lantai bursa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengaku sampai jual harta dan properti untuk bisa membeli saham BUMI. Ia pun mulai mengkoleksi saham BUMI mulai di harga Rp 4.000-an.

"Dulu kan saham sejuta umat itu (BUMI), makanya saya jual-jual properti supaya bisa beli," ujarnya kepada detikFinance, Kamis (4/12/2014).

Naik-turunnya harga saham BUMI pernah ia alami. Dari harga di titik tertinggi, mulai turun gara-gara krisis ekonomi global, sampai terkena forced sell oleh sekuritas di harga rendah.

Sampai sekarang ia masih pegang sekitar 4.000 lot saham BUMI. Ia berharap harganya masih bisa naik lagi dari posisi perdagangan kemarin di Rp 78 per lembar.

"Ini belum untung lagi saya. Kalau dihitung-hitung kerugian bisa sampai Rp 2,9 miliar dari saham Bakrie. Kan 80% portofolio saya itu saham BUMI," jelasnya.

Zainal hanyalah satu dari banyak investor BUMI yang berharap harga sahamnya bisa membaik. Ia percaya dengan cadangan batu bara BUMI yang berkualitas baik, ditambah dengan produksinya yang meningkat bisa memperbaiki nilai sahamnya.

"Jangan dilibatkan atau dikait-kaitkan dengan politik supaya harga sahamnya bisa naik tahun depan," ujarnya.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads