Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan tidak bisa mencapai target 30 perusahaan masuk pasar modal Indonesia tahun ini.
Hingga Rabu (3/12/2014), baru 20 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI melalui Intial Public Offering (IPO). Perusahaan pelayaran, PT Soechi Lines Tbk (SOCI) menjadi emiten ke-20 yang melantai di bursa tahun ini.
Apa tanggapan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)?
"Tergantung kampanyenya, makanya kampanyenya harus lebih rajin," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (5/12/2014).
Namun begitu, Muliaman menyebutkan, tahun depan pihaknya bersama BEI harus bisa lebih banyak menjaring perusahaan masuk pasar modal, setidaknya lebih tinggi dari pencapaian di tahun ini.
"Kita ingin lebih tinggi dari tahun ini. Angkanya dibicarakan dulu," ucap dia.
BEI sendiri telah menetapkan target 32 emiten bisa bergabung di BEI di tahun depan. Target ini diturunkan dari angka sebelumnya yang mencapai 35 emiten.
"Ada permintaan dari OJK untuk menurunkan target. Target IPO tahun depan tadinya kita targetkan 35 akan menjadi 32," ujar Direktur Utama BEI Ito Warsito saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (3/12/2014).
Muliaman pun menjawab pernyataan BEI tersebut. "Target itu menurut bursa tapi belum disetujui. Kita mau dengar dulu, jadi belum ada angka. Itu belum fix, belum ada penurunan angka," kata Muliaman.
Target IPO 32 Perusahan Belum Fix
BEI menurunkan target perusahaan Initial Public Offering (IPO) tahun depan dari 35 menjadi 32 perusahaan. Penurunan target ini mengikuti arahan OJK yang tidak ingin memasang target terlalu tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Target itu menurut bursa tapi belum disetujui. Kita mau dengar dulu, jadi belum ada angka. Itu belum fix, belum ada penurunan angka," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad di tempat yang sama.
Di tempat yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida mengungkapkan, besaran target perusahaan untuk bisa melantai di bursa semua berada di wilayah BEI.
"Nggak ada OJK meminta untuk menurunkan target karena itu kan bursa menargetkan jadi sesuai dengan asumsi bursa, untuk target-target seperti itu, OJK nggak," kata dia.
Nurhaida menyebutkan, kondisi perekonomian nasional di tahun depan diperkirakan akan lebih baik dari tahun ini. Kepastian politik yang sudah terbentuk membuat kondisi perekonomian dalam negeri akan lebih positif.
"Kalau dilihat dari kondisi ke depan, kita bisa melihat bahwa di 2015 itu agenda-agenda di nasional yang membutuhkan perhatian seperti pemilu, kesibukannya mungkin membuat dunia bisnis menunggu untuk melakukan aksi korporasi. 2015 kan sudah selesai, akan lebih baik, optimis," terangnya.
Nurhaida menjelaskan, kondisi perekonomian global meskipun akan berpengaruh terhadap ruang gerak ekonomi nasional, namun tidak akan menggoyang kondisi ekonomi secara signifikan.
"Pengaruh global biasanya sudah diantisipasi. Melihat dari sisi internal, kalau kuat, konfiden tinggi maka pengaruh global tidak akan membuat berbalik arah, karena kondisi negara kita sedang berkembang jadi kesempatan ekonomi besar, jadi negara-negara juga akan mencari," jelas dia.
Dia optimis, aksi korporasi akan lebih ramai di tahun depan dengan syarat kondisi politik stabil.
"Ke depan mudah-mudahan tidak ada hal-hal secara politik dan ekonomi membuat pergerakan ekonomi tidak baik," pungkasnya. (drk/ang)











































