Dolar Sempat Tembus Rp 12.350, Menkeu Bambang: Kita Tak Bisa Mengontrol

Dolar Sempat Tembus Rp 12.350, Menkeu Bambang: Kita Tak Bisa Mengontrol

- detikFinance
Selasa, 09 Des 2014 12:47 WIB
Dolar Sempat Tembus Rp 12.350, Menkeu Bambang: Kita Tak Bisa Mengontrol
Jakarta -

Nilai tukar rupiah masih melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hari ini, dolar AS sudah sempat menembus level Rp 12.350.

Berdasarkan data Reuters, saat ini dolar diperdagangkan di posisi Rp 12.345. Namun level tertinggi dolar AS ada di Rp 12.355, sementara terlemah di Rp 12.335.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menilai, saat ini pelemahan rupiah lebih disebabkan faktor eksternal. Dolar AS memang tengah 'perkasa' karena ekonomi di Negeri Paman Sam yang mulai pulih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Begitulah market. Kita nggak bisa mengontrol market seperti yang lain," ungkapnya saat ditemui di Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (9/12/2014).

Pelemahan kurs, lanjut Bambang, tidak hanya dialami oleh Indonesia. Ada sejumlah negara yang terkena dampak dari penguatan dolar AS seperti Brasil, Turki, India, Afrika Selatan, dan lainnya.

Investor, kata Bambang, melihat kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS akan lebih cepat dari perkiraan. Pasalnya, data perekonomian AS cepat menunjukkan perbaikan.

"AS datanya bagus. Jadi ada perkiraan normalisasi akan lebih cepat," sebutnya.

Selain itu, tambah Bambang, investor juga melihat perekonomian Tiongkok masih akan melambat. Akibatnya, negara-negara dengan hubungan dagang yang erat dengan Tiongkok (seperti Indonesia) akan terkena imbasnya.

"Tiongkok melemah pertumbuhannya. Orang melihat ekspor akan turun," tukas Bambang.

Sementara itu, Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan pelemahan rupiah memang lebih banyak disebabkan faktor eksternal. Dolar AS yang menguat tajam juga dirasakan dampaknya di negara-negara lain, tidak hanya Indonesia.

"Rupiah itu kan sangat tergantung sama faktor eksternal. Jadi tidak hanya rupiah tapi seluruh mata uang dan pasar saham Anda lihat sekarang semua memerah. Jadi karena faktor internasional," terangnya.

Faktor domestik, lanjut Sofyan, justru memberikan sentimen positif. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi membuat investor yakin terhadap komitmen Indonesia untuk melakukan perubahan struktural.

"Karena kebijakan BBM, investor sangat tertarik sekali. Fiskal kita sehat dan faktor domestik kita oke," ujarnya.

(mkl/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads