Mengutip data Reuters, Jumat (12/12/2014), saat ini dolar AS diperdagangkan di posisi Rp 12.443. Bahkan posisi tertinggi dolar AS sempat menyentuh Rp 12.447.
Peter Jacobs, Direktur Komunikasi Bank Indonesia (BI), mengatakan ada 2 faktor yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah. Pertama adalah pemulihan ekonomi di AS, yang mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor kedua, lanjut Peter, adalah pelemahan ekonomi di sejumlah wilayah. Di beberapa negara Eropa, Jepang, sampai Tiongkok, ekonomi tengah lesu.
"Akibatnya. semua orang cari dolar AS. Sekarang dolar AS menjadi safe haven (instrumen investasi paling aman)," katanya.
Menurut Peter, pelemahan rupiah sebenarnya masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain. Sepanjang 2014, pelemahan rupiah adalah sekitar 1,5%.
"Pelemahan rupiah masih rendah dibandingkan Singapura yang 5%, Malaysia 6%, bahkan Jepang sampai 15%. Namun bukan berarti BI tidak waspada," sebutnya.
Faktor yang perlu diwaspadai, tambah Peter, adalah utang luar negeri swasta. BI mencatat utang luar negeri swasta pada akhir kuartal III-2014 sebesar US$ 159,3 miliar atau 54,5% dari total utang luar negeri Indonesia.
"Kami terus mengingatkan agar korporasi hati-hati dengan utang luar negeri. Jika rupiah melemah, nominal utangnya tentu akan bertambah," tegasnya.
Menghadapi pelemahan rupiah, demikian Peter, BI tetap berada di pasar dan melakukan intervensi bila diperlukan. Namun dia mengatakan BI tidak menargetkan rupiah di titik tertentu.
"Kami bukan mencari level, tapi fluktuasi rupiah dijaga supaya lebih smooth. Jadi tidak ada fluktuasi yang terlalu tajam," ucapnya.
(hds/hen)











































