Penguatan dolar itu membuat rupiah jatuh hingga ke titik terendahnya sejak Agustus 1998. Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, rupiah melemah gara-gara dolar AS pulang kampung.
"Gejala rupiah ini bukan gejala spesifik Indonesia. Orang mengatakan mega trend, dolar itu pulang kampung. Karena ekonomi AS ternyata bagus sekali. Dolar yang tadinya di luar, mereka melihat oportunity di AS lebih baik. Oleh sebab itu dolar mulai kembali ke AS. itu yang menyebabkan depresiasi mata uang, bukan hanya Indonesia," kata Sofyan di kantor Wakil Presiden (Wapres), Jakarta Pusat, Senin (15/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yen itu 15%. baht sekitar 6%, ringgit sekitar 5-6%. Seluruh mata uang dunia mengalami hal yang sama," jelasnya.
Penguatan dolar AS juga terbantu rencana The Federal Reserve yang yang menaikkan tingkat suku bunga di AS. Pertemuan bank sentral AS itu akan digelar pekan ini.
"FOMC (The Federal Open Market Committee) mereka sebut akan diadakan tanggal 19 Desember. Kalau keputusan FOMC, misalnya, mau menaikkan suku bunga The Fed, investasi dolar jadi lebih menarik lagi," ujarnya.
Selain itu, tambah Sofyan, ada faktor lain yang mempengaruhi lemahnya nilai tukar rupiah, yaitu banyaknya perusahaan dalam negeri yang menukar rupiah ke dolar AS untuk bayar utang valuta asing (valas).
"Karena akhir tahun perusahaan-perusahaan biasanya menukar uang dolar untuk bayar utang. itu dua faktor yang mempengaruhi rupiah yang melemah ini," jelasnya.
(ang/dnl)











































