Menurut Ekonomi Creco Institute sekaligus Komisaris Independen PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Raden Pardede, dolar AS menguat gara-gara pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat dari prediksi.
"Karena memang terjadi pemulihan ekonomi yang sangat kuat dan penciptaan lapangan kerja mereka sangat kokoh sekali. Di sisi lain inflasi di sana cukup rendah termasuk harga minyak dunia yang turun sehingga mengakibatkan biaya mereka juga turun," katanya di Jakarta, Senin (15/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nggak ada, kita tidak bisa melawan arah dunia. Menurut saya tidak perlu intervensi, kalau perlu hanya menjaga volatilitas yang sangat tinggi. Kalau seperti seluruh mata uang di dunia sudah melemah terhadap dolar, kita ini siapa? Kita harus melihatnya itu, yang penting dijaga biar tidak ada panik," jelasnya.
Ia menyarankan, Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebaiknya menjaga agar tidak ada kepanikan di dalam negeri. Pelaku ekonomi juga perlu diyakinkan bahwa penguatan dolar AS ini hanya sementara dan segera kembali normal.
"Tetapi saya belum melihat ada kepanikan karena ini bukan hanya rupiah saja, tapi di seluruh mata uang dunia," ujarnya.
Hari ini, dolar AS mencapai posisi tertingginya di titik Rp 12.705 sore tadi. Posisi tertinggi dolar AS itu merupakan yang terkuat sejak Agustus 1998, yaitu setelah krisis moneter melanda Tanah Air.
(ang/hen)











































