Ada sektor yang diuntungkan dan dirugikan akibat penguatan dolar AS ini termasuk kinerja emiten di pasar modal.
Analis AAA Aset Manajemen Akuntino mengungkapkan, penguatan dolar berdampak luas pada kinerja emiten di pasar modal, ada yang dirugikan ada pula yang justru diuntungkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akuntino menjelaskan, banyak emiten yang justru diuntungkan dari pelemahan rupiah atau penguatan dolar AS ini. Perusahaan pengekspor barang tentu akan diuntungkan dari pelemahan rupiah ini.
"Yang diuntungkan emiten yang bidang usahanya melakukan ekspor seperti perusahaan tambang, dia diuntungkan karena jual pakai dolar. Tapi masih ada juga dampak lainnya karena harga batu bara lagi nggak bagus," ujar dia.
Akuntino menyebutkan, pengekspor minyak juga diuntungkan. Tapi tidak selalu perusahaan pengekspor minyak ini diuntungkan karena pelemahan rupiah.
"Jika margin cost masih tinggi ya itu harus diperhatikan, bisa juga nanti keuntungannya akan tergerus cost yang tinggi," katanya.
Selain itu, perusahaan ekspor mineral juga diuntungkan dengan pelemahan rupiah ini karena harga jual nikel ini menggunakan dolar.
"Saat ini harga nikel lagi naik," ucap dia.
Lebih jauh Akuntino menjelaskan, perusahaan tambang milik Bakrie Grup, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) harusnya bisa ikut diuntungkan akibat pelemahan rupiah ini.
"BUMI juga kan itu perusahaan tambang besar, pengekspor batu bara, sebenarnya bagus, punya tambang besar di Kalimantan, problemnya adalah utang-utangnya sangat banyak sehingga tergerus oleh bunga sehingga keuangan drop," jelas dia.
Sementara itu, Akuntino menyebutkan, emiten-emiten yang dirugikan akibat pelemahan rupiah adalah perusahaan-perusahaan yang biayanya operasionalnya dalam dolar sementara pendapatannya rupiah. Ini biasanya perusahaan pengimpor barang seperti farmasi dan elektronik.
Selain itu, perusahaan-perusahaan yang punya banyak utang luar negeri namun tidak dilakukan lindung nilai atau hedging.
"Yang dirugikan, yang punya cost dolar yang tinggi seperti perusahaan farmasi. Yang punya utang luar negeri dalam dolar seperti perusahaan properti. Perusahaan elektronik karena impor barang pakai dolar," ungkap dia.
Akuntino mengatakan, penguatan dolar ini tidak akan membebani perusahaan yang punya utang luar negeri jika perusahaan menerapkan sistem hedging.
"Ada emiten juga yang memang bisa tetap kondusif di tengah pelemahan rupiah yaitu perusahaan-perusahaan yang melakukan hedging atau lindung nilai atas utang-utang dolarnya," kata Akuntino.
Berikut saham-saham yang terkena imbas penguatan dolar AS. Posisi penutupan perdagangan Senin (15/12/2014):
- INCO: naik 85 poin atau 2,2% ke Rp 3.940
- KAEF: -30 poin atau -2,11% ke Rp 1.395
- GIAA: -30 poin atau -4,96 ke Rp 575
- ERAA: -45 poin atau -3,73% ke Rp 1.160
- ASRI: -20 poin atau -3,45% ke Rp 560
- BSDE: -90 poin atau -5,04% ke Rp 1.695
- APLN: -7 poin atau -2,03% ke Rp 338
- MAPI: -150 poin atau -2,82% ke Rp 5.175











































