Dolar AS memang sudah bergerak menguat sejak dibukanya perdagangan pagi tadi. Awalnya, dolar AS dibuka di kisaran Rp 12.600 dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu di Rp 12.410.
Fluktuasi dolar AS sangat tinggi kemarin, lebih dari 200 poin hanya dalam sehari. Apa penyebab lemahnya rupiah ini? Berikut hasil rangkuman detikFinance, Selasa (16/12/2014).
Penguatan Dolar Sudah Terlalu Besar dan Tidak Wajar
|
|
"Pelemahan ini terlalu besar, tidak wajar. Ini benar-benar murni masalah sentimen, bahkan mungkin ada unsur spekulasinya," kata Tony kepada detikFinance, Senin (15/12/2014)
Bila diukur secara fundamental ekonomi, menurut Tony, Indonesia sudah cukup baik. Terukur dari sehatnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014.
"BI harus menjaganya (rupiah) dengan cara melakukan intervensi. Cadangan devisa kita US$ 111 miliar cukup memadai," tegas Tony kepada detikFinance, Senin (15/12/2014).
Menko Sofyan: Dolar Pulang Kampung
|
|
"Gejala rupiah ini bukan gejala spesifik Indonesia. Orang mengatakan mega trend, dolar itu pulang kampung. Karena ekonomi AS ternyata bagus sekali. Dolar yang tadinya di luar, mereka melihat oportunity di AS lebih baik. Oleh sebab itu dolar mulai kembali ke AS. itu yang menyebabkan depresiasi mata uang, bukan hanya Indonesia," kata Sofyan di kantor Wakil Presiden (Wapres), Jakarta Pusat, Senin (15/12/2014).
Jika dibandingkan mata uang di negara-negara kawasan, kata Sofyan, pelemahan rupiah tidak dalam dan hanya 2,5% pada periode tahunan (year-on-year/yoy) dari Desember 2013 ke Desember 2014.
"Yen itu 15%. baht sekitar 6%, ringgit sekitar 5-6%. Seluruh mata uang dunia mengalami hal yang sama," jelasnya.
Penguatan dolar AS juga terbantu rencana The Federal Reserve yang yang menaikkan tingkat suku bunga di AS. Pertemuan bank sentral AS itu akan digelar pekan ini.
Cadangan Devisa US$ 111 Miliar Bisa Habis Jika Intervensi
|
|
Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Sofyan Djalil di kantor Wakil Presiden (Wapres), Jakarta Pusat, Senin (15/12/2014).
"Saya pikir dalam kondisi seperti ini, kalau BI melakukan intervensi saya tidak tahu, tetapi tentu BI akan mengambil tindakan. Tetapi dalam tren yang seperti ini, kalau diintervensi dalam jumlah besar-besaran, itu habis devisa saja dan kita tidak mampu menahan," ujarnya.
Pergerakan Rupiah Sejak Krismon 1998
|
|
Yuk, kita lihat pergerakan rupiah mulai dari sebelum dan sesudah krismon 1998, juga sebelum dan sesudah krisis finansial global 2008, sampai hari ini.
BI: Ada 4 Faktor yang Bikin Rupiah Terlemah Sejak Agustus 1998
|
|
Direktur Komunikasi BI Peter Jacobs mengatakan, faktor pertama menguatnya dolar AS adalah antisipasi rapat The Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini yang diprediksi bisa menaikkan tingkat suku bunga.
Sementara yang kedua adalah, menguatnya ekonomi AS. Ketiga defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia yang masih tinggi. Sedangkan yang keempat adalah meningkatnya permintaan dolar AS di akhir tahun.
"Melemahnya rupiah diharapkan hanya bersifat sementara," kata Peter kepada detikFinance, Senin (15/12/2014).
Halaman 2 dari 6











































