Dolar Rp 12.700 Bikin Avtur Makin Mahal, Bagaimana Kinerja Garuda ke Depan?

Dolar Rp 12.700 Bikin Avtur Makin Mahal, Bagaimana Kinerja Garuda ke Depan?

- detikFinance
Selasa, 16 Des 2014 07:52 WIB
Dolar Rp 12.700 Bikin Avtur Makin Mahal, Bagaimana Kinerja Garuda ke Depan?
Jakarta - Dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan penguatannya terhadap nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp 12.700.

Kinerja emiten di bursa saham yang biaya operasionalnya banyak menggunakan dolar, tapi pendapatannya dalam bentuk rupiah, tentunya akan terpukul dengan terus melemahnya rupiah ini.

Salah satunya PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Kinerja maskapai pelat merah ini tentu akan kena imbas pelemahan rupiah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

VP Corporate Communications Pujobroto mengungkapkan, mayoritas biaya operasional menggunakan dolar, sementara pendapatan rupiah. Pelemahan rupiah ini tentu akan berdampak signifikan bagi kinerja perseroan.

"Intinya pelemahan rupiah berpengaruh terhadap biaya operasional. 70% biaya operasional kita dari dolar, salah satunya avtur, kalau harganya normal maka beban perusahaan dari avtur 20-25% dari total biaya operasional tetapi kemarin dolar sempat tinggi itu bebannya bisa 40-50%," ujar Pujo kepada detikFinance, Selasa (16/12/2014).

Dia menyebutkan, saat ini harga avtur sedang turun mengikuti harga minyak dunia yang memang dalam tren menurun. Penurunan harga minyak ini akan bisa menekan biaya operasional perseroan.

"Sekarang harga avtur lagi turun 65-70 sen per liter, sebetulnya harga bahan bakar turun membantu industri penerbangan untuk menekan biaya operasional," katanya.

Namun, kata dia, dengan pelemahan rupiah yang begitu dalam akan membuat beban operasional perseroan juga ikut bertambah.

Pujo menyebutkan, setiap pelemahan Rp 100, maka beban yang ditanggung Garuda semakin tinggi hingga US$ 12,8 juta.

"Tapi dengan melemahnya rupiah maka tentu akan berpengaruh, karena setiap pelemahan Rp 100 bagi Garuda akan jadi beban US$ 12,8 juta," jelas dia.

Lebih jauh Pujo menyebutkan, untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya melakukan berbagai antisipasi menekan angka kerugian melalui peningkatan revenue generated.

"Dengan manajemen baru, kita sudah ada strategi dalam jangka pendek, kita akan meningkatkan revenue generated yaitu meningkatkan potensi pendapatan dengan program marketing yang lebih menarik dan agresif, memanfaatkan kerjasama dengan penerbangan lain," terangnya.

Selain itu, Pujo menyebutkan, perlu adanya penghematan cost driver untuk menekan biaya-biaya pengeluaran agar lebih efisien, serta melakukan refinancing agar keuangan lebih sehat.

"Tahun depan kalau pun tidak untung tapi bisa menekan kerugian, kita akan kerja keras," pungkasnya.

Hingga penutupan perdagangan Senin (15/12/2014), saham GIAA ditutup melemah 30 poin atau -4,96% ke level Rp 575 per saham.

(drk/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads