Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Andin Hadiyanto mengatakan, kondisi tertekannya rupiah karena faktor eksternal.
"Karena dolar yang menguat. Melihat semua mata uang regional juga melemah kan. Artinya bukan rupiah yang bermasalah, tapi dolar yang sebetulnya menguat," jelas Andin di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (16/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi sekarang berbeda dengan 2013. Waktu 2013 ada juga persoalan eksternal, yaitu tapering off (penarikan stimus ekonomi oleh bank sentral AS). Tapi juga ada masalah pada fundamental. CAD (defisit transaksi berjalan) kita sampai di 4,4%, kemudian ada ancaman di defisit anggaran. Sehingga sumber masalahnya lebih besar," papar Andin.
Sementara kondisi sekarang, defisit transaksi berjalan sudah membaik, dan defisit anggaran di bawah 2,5%. "Jadi secara fundamental tak ada masalah. Cuma memang rupiah sangat perkasa," jelas Andin.
Dia mengatakan, secara rata-rata dari 1 Januari-15 Desember 2014, dolar berada di level Rp 11.896.
(dnl/ang)











































