Mengutip data Reuters, dolar AS kini berada di posisi Rp 12.665. Melemah dibandingkan saat pembukaan pasar yaitu Rp 12.740.
Aldian Taloputra, Ekonom Senior Mandiri Sekuritas, meyakini penguatan rupiah akan terjadi tahun depan. Dia memperkirakan dolar AS akan melemah dan mencapai Rp 12.000.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Momentum pelemahan rupiah, tambah Aldian, bisa dimanfaatkan untuk mendorong ekspor dan mengurangi impor. Ini akan berdampak pada penurunan defisit transaksi berjalan, dan bisa membuat rupiah menguat kembali.
Dia menjelaskan, secara keseluruhan perekonomian Indonesia tahun depan akan membaik. Faktor-faktor risiko yang berpengaruh, baik dari dalam maupun luar negeri, akan mampu diatasi.
Menurut Aldian, bank sentral AS The Federal Reserves/The Fed belum akan menaikkan tingkat suku bunganya dalam waktu dekat. Agak berbeda dengan perkiraan banyak pihak, di mana The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga pada kuartal II-2015.
"Overall, 2015 lebih positif. Faktor eksternal seperti kapan AS akan naikkan suku bunganya, sepertinya belum dalam waktu dekat. Inflasi di AS juga belum mengancam, harga minyak turun, jadi Fed belum akan menaikkan bunga," jelas dia.
Karena The Fed diperkirakan belum menaikkan suku bunga, Aldian menilai Bank Indonesia (BI) pun masih akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate. Inflasi tahun depan juga akan kembali normal karena dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah selesai.
"Desember ini peak inflasi, bisa 2%. Jadi akhir tahun ini inflasi 7,9-8%. Base line kembali normal tahun depan karena sudah nggak ada dampak kenaikan BBM. BI rate akan flat, kita nggak expect naik karena inflasi inti masih di bawah 5%," papar Aldian.
(drk/hds)











































