"Capital outflow dari 1-16 Desember 2014 adalah Rp 17 triliun di pasar saham dan bond. Ini (arus modal keluar) juga terjadi di negara-negara lain. Jadi pelemahan nilai tukar bukan hanya terjadi pada rupiah, tapi juga pada nilai tukar negara lain," papar Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), di kantornya, Jakarta, Rabu (17/12/2014).
Investor asing, lanjut Mirza, saat ini memang sedang ramai-ramai menanamkan modalnya ke AS. Mereka menantikan keputusan bank sentral AS The Federal Reserves/The Fed yang disebut-sebut akan segera menaikkan suku bunga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Faktor yang menjadi penguatan dolar adalah, ekspektasi suku bunga AS yang akan meningkat dari 0,25 menjadi 3% dalam 3 tahun ke depan. Seiring dengan ekonomi AS yang tumbuh dengan turunnya angka pengangguran. Wajar kalau kemudian dana yang selama ini ditempatkan di negara lain kembali ke AS dan dolar menguat," jelas Mirza.
Selain AS, menurut Mirza, perkembangan di Rusia juga punya pengaruh besar. Ekonomi Rusia tengah dilanda masalah besar karena pelemahan mata uang ruble yang mencapai lebih dari 50% sepanjang tahun ini, dan anjloknya harga minyak.
"Rusia yang sedang terpuruk membuat sentimen negatif bagi negara emerging market seperti Indonesia. Seperti waktu 2008, saat ada masalah di AS maka kita terkena imbasnya. Waktu 2011 Eropa kolaps, kita kena juga," terang Mirza.
(hds/ang)











































