Subsidi Bensin Premium Dicabut, Ini Imbasnya ke Pasar Keuangan

Subsidi Bensin Premium Dicabut, Ini Imbasnya ke Pasar Keuangan

- detikFinance
Senin, 05 Jan 2015 08:18 WIB
Subsidi Bensin Premium Dicabut, Ini Imbasnya ke Pasar Keuangan
Jakarta - Pemerintah telah menetapkan kebijakan menghapus subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium. Karena Premium sudah mengikuti mekanisme pasar, kini harganya menjadi menjadi Rp 7.600/liter dari sebelumnya Rp 8.500/liter.

Untuk BBM diesel atau Solar, pemerintah masih memberikan subsidi tetap (fixed subsidy) Rp 1.000/liter. Kini harga Solar menjadi Rp 7.250/liter, turun dari sebelumnya Rp 7.500/liter.

Apa imbas dari kebijakan baru ini kepada pasar keuangan dalam negeri? Berikut rangkuman detikFinance, Senin (5/1/2015).

Pelaku Pasar Sambut Positif

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) David Sumual menilai, pelaku pasar menyambut positif kebijakan pemerintah tersebut. Melalui kebijakan itu, ruang fiskal pemerintah semakin longgar sehingga akan mudah mendorong pembangunan infrastruktur.

"Sudah diekspektasi, market menyambut positif dan menerima kebijakan pemerintah. Risiko fiskal berkurang,” kata dia saat dihubungi detikFinance, Minggu (4/1/2015).

David menjelaskan, dana penghapusan subsidi Premium bisa dialikan ke sektor yang lebih produktif seperti pembangunan infrastruktur. Bila infrastruktur berjalan baik, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat.

"Budget untuk subsidi BBM tidak lagi fluktuatif akibat naik turunnya harga minyak dunia. Inflasi tidak akan melonjak. Ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik asalkan pemerintah bisa membelanjakan dananya dengan baik,” jelas dia.

Dolar AS Bisa Ditekan ke Rp 12.000

David menilai salah satu faktor yang menyebabkan rupiah berfluktuasi adalah tingginya impor, terutama BBM. Penyebabnya adalah konsumsi BBM domestik yang tinggi akibat harganya yang murah karena disubsidi.

Namun mulai 1 Januari 2015, pemerintah resmi menghapus subsidi untuk BBM jenis Premium. Untuk BBM diesel atau Solar diberikan subsidi tetap (fixed subsidy) Rp 1.000/liter.

Langkah ini dinilai mampu meredam konsumsi BBM, sehingga impor BBM juga akan berkurang. Dengan demikian, David memperkirakan rupiah bisa menguat kembali.

"Rupiah akan ada di kisaran Rp 12.000-Rp 12.700/US$, fair value Rp 12.300-Rp 12.400/US$. Ini kalau banyak reformasi struktural yang dilaksanakan, risiko fiskal jadi lebih rendah, sehingga rating bisa di-upgrade," katanya.

Pertumbuhan Ekonomi di atas 5%

David menyebutkan pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan akan bergerak di kisaran angka 5-5,5%.

"Pertumbuhan ekonomi tergantung kemampuan pemerintah membelanjakan anggarannya seperti infrastruktur yang memberi daya dorong tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi. Kalau bisa direalisasikan dengan baik, diprediksikan bisa di kisaran 5-5,5%," paparnya.

IHSG Menghijau

Menutup perdagangan Jumat (2/1/2015), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di posisi 5.242,77, naik 15,82 poin atau 0,3%. Di tengah sempitnya hari perdagangan dan kemungkinan masih adanya hawa libur Tahun Baru tidak menyurutkan IHSG untuk mencatatkan hasil positif.

Untuk perdagangan Senin (5/1/2015), Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada memperkirakan IHSG berada pada rentang support 5.215-5.235 dan resisten 5.250-5.258.

"Tampaknya pelaku pasar masih melakukan aksi beli, meskipun volume transaksi agak sedikit surut. Penguatan pada saham-saham konsumer, perkebunan, dan properti masih dapat menyokong penguatan IHSG," kata Reza dalam risetnya seperti dikutip detikFinance, Minggu (4/1/2015).

Menurut Reza, investor asing yang masih melakukan aksi jual dan rilis data-data makro ekonomi Indonesia yang kurang baik tidak menghalangi IHSG untuk dapat melanjutkan penguatannya.
Halaman 2 dari 5
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads