Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (6/1/2015), dolar AS dibuka di posisi Rp 12.660. Menguat dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya yaitu Rp 12.592.
Riset Batavia Prosperindo Sekuritas menyebutkan, pelemahan rupiah tidak lepas dari menguatnya dolar AS terhadap mata uang dunia. Pasalnya, pelaku pasar mengkhawatirkan pemulihan ekonomi di Eropa yang berjalan lambat yang menyebabkan bank sentral Uni Eropa (ECB) berencana menggelontorkan stimulus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Reza Priyambada, Kepala Riset Woori Korindo Securities, mengemukakan hal senada yaitu sentimen negatif dari Eropa yang menyebabkan dolar AS masih perkasa. Selain pemulihan ekonomi yang lambat, ada pula kemungkinan Yunani akan keluar dari Uni Eropa.
Pernyataan Perdana Menteri Yunani Antonis Samaras bahwa pemilihan presiden kali ini bisa berakibat keluarnya Yunani dari Uni Eropa apabila Partai Syriza menang menjadi sentimen negatif. Sejumlah pihak menduga besar kemungkinan partai tersebut akan menang dalam pemilihan pada Februari mendatang.
"Lalu, masih berlanjutnya pelemahan harga minyak mentah membuat pelaku pasar lebih memilih ke aset safe haven yaitu dolar AS. Masih adanya sentimen negatif membuat laju rupiah berpeluang kembali melanjutkan pelemahan," sebut Reza dalam risetnya.
(hds/ang)











































