Halim Alamsyah, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) mengatakan, faktor utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS adalah karena kemungkinan Yunani keluar dari Uni Eropa. Ini menjadi perhatian banyak investor.
"Ada risk off (risiko) dari internasional, karena ada beberapa berita yang menjadi perhatian investor, terutama masalah kemungkinan Yunani keluar dari Uni Eropa, itu yang saya kira dalam beberapa waktu ini mempengaruhi beberapa mata uang dunia termasuk rupiah," ungkap Halim di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (7/1/2015) .
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasalah selalu ada investor yang mencoba untuk memanfaatkan, kita mencegah yang sifatnya spekulatif," sebutnya.
Sedangkan dari dalam negeri, menurut Halim, fundamental ekonomi cukup terjaga baik. Apalagi setelah adanya kebijakan soal Bahan Bakar Minyak (BBM), dengan mencabut subsidi bensin premium dan menerapkan skema subsidi tetap untuk solar.
"Internal kondisi ekonomi kita masih lebih baik dan jauh lebih sehat," tegasnya.
BI akan terus memantau pergerakan pasar dengan memastikan permintaan dan penawaran terjaga. Situasi ini menurut BI temporer. Sejak awal tahun, BI sudah melakukan intervensi untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
"BI melakukan upaya agar situasi temporer, jangan membuat confidence pasar memburuk, karena ini temporer," jawab Halim.
Di samping itu investor juga masih di ambang ketidakpastian akibat rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed yang akan menaikan suku bunga acuan tahun ini. Sehingga volatilitas nilai tukar diperkirakan terus berlanjut.
"Kita lihat volatilitasnya karena akan terjadi, kita masih menunggu reaksi The Fed itu akan masih ada," tukasnya.
(mkl/dnl)











































