"Fenonemena penguatan dolar secara global karena dolar ini sedang tidak punya lawan. Kalau dulu ada euro, yen, dan to some extent yuan," ungkap Bambang saat berkunjung ke kantor detik.com, Jakarta, Jumat (9/1/2015).
Menurut Bambang, euro memang tidak kolaps tapi stagnan dalam jangka waktu lama. Sementara yuan ikut melemah karena perlambatan ekonomi Tiongkok. Sedangkan yen lesu karena disengaja, tujuannya mendorong kinerja ekspor Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Euro memang tidak kolaps tapi stagnan dan prediksi banyak orang akan dalam jangka waktu lama. Kemudian Jepang, itu basic-nya bukan ekonomi berbasis konsumsi domstik, tapi ekspor. Caranya mau tidak mau memang harus didukung dengan yen yang lemah," jelas Bambang.
Oleh karena itu, Bambang menilai tekanan terhadap rupiah pun akan terjadi selama 2015. "Secara makro memang kita simpulkan gonjang-ganjing rupiah ini mungkin masih akan berlangsung selama 2015," ungkapnya.
(mkl/hds)











































