Suba Indah Batalkan Pabrik Baru

Gagal Jual MCB

Suba Indah Batalkan Pabrik Baru

- detikFinance
Jumat, 28 Jan 2005 14:19 WIB
Jakarta - PT Suba Indah Tbk (SUBA) membatalkan rencana pembangunan pabrik soybean crushing atau pabrik penghancur kacang kedele, setelah pihaknya gagal menjual obligasi wajib konversi atau MCB (mandatory convertible bond) senilai Rp 918 miliar. Rencana semula dana dari hasil obligasi wajib konversi akan digunakan untuk pembuatan pabrik soybean crushing. Dimana jika itu terlaksana pabrik tersebut akan jadi industri pemrosesan kacang kedele yang pertama dan terbesar di Indonesia. Namun dalam penjualan obligasi wajib konversi tersebut hanya laku sebesar Rp 3,362 miliar, jauh dari target semula Rp 918 miliar. Penjualan obligasi wajib konversi tersebut melalui right issue kedua dengan rasio 500 saham lama berhak membeli satu obligasi wajib konversi untuk jangka waktu tiga tahun. "Kecilnya realisasi hasil right issue kedua ini, karena batalnya Perum Bulog dan Bank Mandiri untuk membeli obligasi wajib konversi PT Suba Indah Tbk," kata Direktur Keuangan Ibnu Sutowo dalam paparan publik yang berlangsung di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Jumat,(28/1/2005). Menurut Ibnu, dampak dari tidak berhasilnya perolehan dana right issue tersebut membuat perseroan akhirnya membatalkan rencana pembangunan pabrik soybean crushing. "Tahun ini kita belum berencana mencari pendanaan baru lagi, karena rencana pembangunan pabrik soybean crushing dibatalkan," ujar Ibnu. Seperti diketahui, kapasitas produksi abrik soybean crushing direncanakan 200 ton per hari dan akan menelan biaya investasi kurang lebih US$ 50 juta. Suba juga akan membangun fasilitas penunjang berupa gudang yang mampu menampung 200.000 ton di kompleks industri Pelabuhan Cigading, Cilegon, Banten. Jika berjalan sesuai rencana, produksi Suba diperkirakan mencapai sepertiga dari total impor kacang kedele (soybean) Indonesia saat ini. Suba juga berharap bisa mengurangi ketergantungan Indonesia pada bungkil kedelai impor. Namun saat ini lanjut Ibnu, Suba akan memfokuskan pada pembuatan corn starch (tepung jagung). Kapasitas pabrik perseroan saat ini mencapai tingkat 70 sampai 80 persen per hari dari kapasitas terpasang 1.000 ton per hari. Bahan baku untuk produk tersebut berasal dari dalam negeri dan luar negeri dengan kualitas produk standar internasional. Bahan baku untuk tepung jagung itu berasal dari Pulau Jawa dan Lampung, AS, Cina, Thailand dan Argentina. Untuk tahun 2005 penjualan lokal sebesar 40 persen dan ekspor diperkirakan mencapai 60 persen dengan negara tujuan ekspor terbesar adalah Pilipina, Malaysia dan Singapura. Perseroan juga berencana membuat produk baru di tahun 2005 seperti WSF-Water Stimulating Feed (Shrimp Feed) dan Corn Starch Noodle (Maizena Noodle). Total aset Suba Indah sampai September 2004 Rp 1,002 triliun. Perseroan mencatat penjualan per September 2004 sebesar Rp 380,527 miliar dengan rugi bersih Rp 117,946 miliar. Diperkirakan hingga akhir tahun 2004 rugi bersih akan membengkak dibandingkan September 2004. "Kerugian ini terjadi karena melonjaknya harga jagung terutama pada bulan Desember yang merupakan puncak harga tertinggi," ujar Ibnu. Dia juga menjelaskan, total utang Suba saat ini mencapai Rp 600 miliar dimana terdiri sebesar Rp 250 miliar utang kepada Bank Mandiri dan utang kredit ekspor (L/C) sebesar Rp 250 miliar. "Kemungkinan kita akan menata ulang utang kepada Bank Mandiri," katanya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads