Namun tidak berlaku bagi perusahaan tambang BUMN PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA).
Dari laporan keuangan perseroan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip detikFinance, Jumat (13/2/2014), dalam periode 9 bulan pertama 2014, penjualan batu bara PTBA naik menjadi Rp 9,66 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 8,12 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perseroan berhasil menekan beban pokok penjualan dari Rp 6,59 triliun di periode sembilan bulan pertama 2013, menjadi Rp 5,74 triliun di periode yang sama tahun ini.
Laba bersih per saham dasar yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk juga terdorong naik dari Rp 568 ke Rp 728.
Beberapa waktu lalu, Direktur Utama PTBA Milawarma mengatakan, salah satu strategi bisnis yang dilakukan perseroan adalah dengan mengalihkan pasar dari semula ke Tiongkok yang menjadi tujuan utama ekspor dialihkan ke India, Vietnam, Jepang, Malaysia, Kamboja, Thailand, dan Taiwan.
"Ekspor ke Tiongkok lesu, tapi ada peningkatan permintaan dari India. Sekarang yang besar ke Vietnam, Jepang, Malaysia, dan India. Kita harapkan menjadi pengalihan penurunan permintaan dari Tiongkok," papar Direktur Utama PTBA Milawarma awal Februari lalu.
Milawarma menyebutkan, mulai 2013 yang lalu porsi ekspor batu bara ke Tiongkok mulai menurun seiring perlambatan perekonomian di Negeri Tirai Bambu tersebut. Sebelumnya, porsi ekspor ke Tiongkok mencapai 10-12% per tahun dari total produksi perseroan.
"Semenjak 2013-2014 ekspor ke Tiongkok turun, yang meningkat Vietnam," katanya.
Lebih jauh Milawarma menyebutkan, harga jual batu bara milik PTBA untuk kalori rendah dipatok Rp 650.000/ton. Batu bara kalori rendah ini biasanya dipasok untuk kebutuhan dalam negeri.
"Harga batu bara PTBA bervariasi karena produknya ada 7, tergantung brand. Paling rendah kualitas 5.000 atau BA 59, itu digunakan untuk pasokan domestik karena PLTU domestik didesain untuk kalori 5.000," terangnya.
Sementara batu bara berkalori tinggi dipasok untuk pasar ekspor. Harga rata-rata batu bara ini disesuaikan dengan indeks harga dunia. Saat ini, PTBA menjual batubara berkalori tinggi dengan harga rata-rata Rp 700.000/ton.
"Tertinggi itu jenis BA 70-76, itu untuk ekspor. Harga nggak pasti, tergantung indeks batu bara dunia. Indeks saat ini US$ 63/ton, itu kalori 6.300. Harga jual rata-rata PTBA sekitar di atas Rp 700.000 ribu, mix yang 70-76 kalori. Ada yang dijual di mulut tambang dan pelabuhan, itu mix untuk semua kalori. Jadi blended," papar Milawarma.
Sementara itu, harga jual batu bara di pasar internasional belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Dari data Kementerian ESDM Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk penjualan langsung (spot) yang berlaku tanggal 1 Januari 2015 hingga 31 Januari 2015 pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB vessel) adalah US$ 63,84/Ton.
HBA Januari 2015 itu, turun US$ 0,81 atau setara 1,25%, dibandingkan dengan HBA Desember 2014 sebesar US$ 64,65. Nilai HBA Januari 2015 masih melanjutkan tren penurunan HBA yang terjadi di 2014.
Rata-rata HBA di 2014 adalah US$ 72,62. Bila dibandingkan dengan HBA bulan yang sama di 2014 yaitu sebesar US$ 81,90, maka HBA Januari 2015 ini anjlok hingga US$ 18,06 atau setara 22%.
(drk/hen)











































