Kabar ini muncul saat Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro 'nongkrong' bersama di salah satu kedai Pasar Santa, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu 1 Februari 2015. Dirut Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin juga hadir sore itu.
"Mandiri dan BNI dimerger saja," ucapnya singkat seraya memberikan senyuman kepada Budi yang kala itu duduk tepat di sebelah kanannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah Bambang melontarkan wacana merger Bank Mandiri-BNI, pergerakan saham kedua bank itu esok harinya pada Senin 2 Februari 2015 langsung menghijau. Saham Bank Mandiri ditutup naik 150 poin ke Rp 10.150 per lembar dan BNI naik 50 poin ke Rp 6.250 per lembar.
"Ada harapan yang positif dari merger karena prosesnya bisa memberi nilai tambah bagi si emiten. Makanya pelaku pasar memanfaatkan sentimen ini untuk beli saham," katanya kepada detikFinance, Jumat (13/2/2015).
Wacana terus bergulir. Berita yang beredar semakin ramai, dari mulai yang mendukung sampai ada juga yang menolak. Tapi sahamnya dua bank pelat merah itu terus menanjak.
"Pelaku pasar juga sambil melihat realisasinya nanti, apakah jadi seperti akuisisi BTN yang batal atau tidak," ujarnya.
Pemerintah juga belum secara tegas menyatakan wacana ini akan berlanjut atau tidak. Namun, hari ini Tim Ahli Wakil Presiden menyatakan, Pemerintah tidak punya rencana itu.
Rencana boleh batal, tapi saham-sahamnya sudah 'tergoreng' dengan matang. Dalam waktu dua pekan terakhir ini saham dua bank itu sudah naik signifikan.
Jika melihat posisi 2 Februari 2015, saham Bank Mandiri ditutup di Rp 10.150 per lembar. Nah, sampai perdagangan kemarin ada kenaikan 16% menjadi Rp 11.775 per lembar.
Sementara saham BNI, yang pada 2 Februari 2015 ditutup di Rp 6.250 kemarin ditutup Rp 6.725 per lembar. Sahamnya tumbuh 7,6% atau naik Rp 475.
(ang/dnl)











































