Forex Bukan Investasi, Tapi Dagang Valas

Forex Bukan Investasi, Tapi Dagang Valas

Angga Aliya - detikFinance
Rabu, 18 Feb 2015 14:05 WIB
Forex Bukan Investasi, Tapi Dagang Valas
Jakarta - Sudah banyak masyarakat Indonesia yang terjebak dan merugi gara-gara investasi foreign exchange (forex). Selama ini masyarakat salah kaprah, forex itu bukan sarana investasi tapi trading alias dagang.

"Ini bukan investasi, tapi trading. Jual-beli," kata Perencana Keuangan Aidil Akbar ketika dihubungi detikFinance, Selasa (17/2/2015).

Jika berinvestasi, kata Aidil, berarti menempatkan uang dalam waktu cukup lama dengan harapan ada imbal hasil alias return. Tentunya investasi ini harus diimbangi dengan perhitungan yang matang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara di forex keutungan yang didapat itu dalam waktu singkat dan tidak bisa diprediksi. Pergerakannya sangat cepat dengan risiko yang tinggi.

"Kalau trading forex risiko besar karena bisa leverage sampai 10 kali lipat dari modal. Contoh punya Rp 100 juta berarti saya bisa kontrak sampai Rp 1 miliar. Jadi kalau untung bisa besar, kalau rugi ya langsung habis," jelasnya.

Apalagi, trading forex ini bergerak bersama pemain lain di seluruh dunia yang perputaran uangnya mencapai hingga ratusan triliun rupiah per hari.

"Jadi kalau hanya modal Rp 100 juta itu tidak akan terasa, duit berputarnya kan ratusan triliun rupiah. Jadi tidak ada rumusnya," ungkapnya.

Maka dari itu, tambah Aidil, bukan tidak mungkin banyak perusahaan pialang forex yang akhirnya tutup karena tidak bisa bersaing. Masalah lain biasanya kekurangan modal untuk bertransaksi.

Itulah mengapa perusahaan seperti ini butuh marketing yang banyak untuk cari klien yang bisa memodali mereka dalam bertransaksi.

"Kliennya kan sama saja modalin perusahaan buat trading. Jadi butuh marketingnya untuk cari modal. Sama saja seperti minta uang nasabah untuk main forex," katanya.

Memang sudah banyak nasabah yang dananya tidak bisa kembali setelah menyimpan uang di pialang forex, salah satunya adalah nasabah di PT Rex Capital Indonesia (CRF).

Sebanyak 36 nasabah mengaku tidak bisa menarik dananya yang mencapai Rp 10 miliar. Uang yang bisa dikembalikan baru sekitar Rp 800 juta.

(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads