Agar Rupiah 'Perkasa', Menko Sofyan Ingin RI Tiru Malaysia

Agar Rupiah 'Perkasa', Menko Sofyan Ingin RI Tiru Malaysia

- detikFinance
Jumat, 20 Feb 2015 10:43 WIB
Agar Rupiah Perkasa, Menko Sofyan Ingin RI Tiru Malaysia
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih dalam tren melemah. Dolar AS masih 'betah' di kisaran Rp 12.800.

Mengutip data Reuters, saat ini dolar AS diperdagangkan di posisi Rp 12.850. Sofyan Djalil, Menko Perekonomian, menilai rupiah bukan satu-satunya mata uang yang melemah. Dolar AS memang tengah 'perkasa' terhadap mata uang dunia karena ekonomi di Negeri Paman Sam yang semakin membaik.

Namun, Sofyan ingin agar pergerakan rupiah tidak terlalu fluktuatif. Oleh karena itu, investor pasar keuangan dalam negeri harus diperkuat agar mampu menyokong penguatan rupiah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Harus diperkuat basis faktor domestik. Seperti Malaysia, itu jauh lebih besar investor domestik yang beredar di pasar modal," kata Sofyan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (20/2/2015).

Indonesia, lanjut Sofyan, punya investor domestik yang potensial. Misalnya dana pensiun, dana tabung haji, dan sebagainya.

"Investor di Malaysia itu sebenarnya dana pemerintah, dana pensiun, dana tabung haji, dan lain lain. Kita di sini ada potensi dana tabung haji, BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), dana pensiun, dan sebagainya. Ini bisa dimanfaatkan, meski relatif masih sedikit," jelasnya.

Investor domestik, tambah Sofyan, harus mengarah ke investor institusi. Sulit mengandalkan investor individu atau ritel, karena belum seluruh masyarakat Indonesia aktif berinvestasi di pasar keuangan.

Pemerintah sendiri, menurut Sofyan, terus berupaya menyediakan iklim investasi yang kondusif agar semakin banyak investor (terutama domestik) yang menempatkan dananya di pasar modal. Misalnya melalui kepastian hukum, perbaikan birokrasi, dan lain-lain.

"Kepastian hukum dan reformasi birokrasi kita perbaiki terus. Manajemen APBN jauh lebih baik, terutama nggak ada lagi subsidi. APBN kita tak tersandera," ungkap Sofyan.

Dengan demikian, Sofyan berharap fluktuasi nilai tukar rupiah bisa diredam karena ekonomi domestik yang lebih kuat. Namun, dia menegaskan rupiah tidak bisa sepenuhnya terlepas dari dinamika ekonomi global.

"Kita hidup dalam situasi global, dan itu adalah pilihan kebijakan ekonomi kita. Tetapi yang penting nilai mata uang tergantung kinerja ekonomi kita, yang sejauh ini bagus," sebutnya.

(mkl/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads