Direktur Keuangan GIAA I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan, pihaknya tengah menjajaki kemungkinan untuk menerbitkan sukuk global di pertengahan tahun ini.
"Lagi menjajaki global sukuk US$ 500 juta. Rencananya pertengahan April tahun ini," katanya saat ditemui di kantor pusat Garuda Indonesia, di Panin Tower, Senayan City, Jakarta, Selasa (24/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apabila pasar tidak menyerap sukuk global US$ 500 juta tersebut, maka 2 investor pemberi pinjaman melalui bridging financing senilai $ 400 juta (Rp 4,8 triliun), dari National Bank of Abu Dhabi (NBAD) dan Dubai Islamic Bank PJSC, akan mengubah skema pinjamannya menjadi back stop facilities, dengan tenor 7 tahun dari sebelumnya hanya 1 tahun.
"18 Februari sudah tanda tangan komitmen pembiayaan bridging financing US$ 400 juta untuk menalangi kebutuhan financing kita untuk 2015. Namun bila terjadi kondisi market yang tidak kondusif kita akan diberikan back stop facilities sampai 7 tahun," jelas dia.
Ari mengaku, penerbitan sukuk global ini merupakan yang pertama diterbitkan perusahaan dalam negeri. Bila ini berhasil, maka akan bisa jadi acuan perusahaan lain untuk mengikuti.
"Itu merupakan global sukuk pertama yang diterbitkan satu korporasi di Indonesia. Kalau global sukuk bagus kita akan menunjuk 5-6 bank. Kenapa pilih sukuk karena kita tidak perlu rated untuk terbitkan ini. Kita cari pasar yang lebih besar. Ini masih dalam kajian. Penerbitannya nanti dicatatkan di Dubai," jelas dia.
(drk/dnl)











































