Salah satu alasan banyak bursa cetak rekor adalah stimulus dari bank sentral, salah satunya Uni Eropa, yang dipercaya bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi.
Ekonom pemenang hadiah Nobel, Robert Shiller, mengatakan penguatan serentak di pasar modal seluruh dunia ini mirip dengan yang terjadi saat gelembung (bubble) dot-com di akhir 90-an.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah terlihat bahwa harga saham-saham sudah tinggi, bahkan kembali ke titik sebelum krisis finansial 2008. Mungkin tidak akan separah waktu gelembung dot-com, tapi sudah mahal," ujarnya seperti dikutip CNN, Rabu (25/2/2015).
Menurutnya bedanya dengan zaman gelembung dot-com, atau bahkan sebelum krisis 2008, saat ini perusahaan-perusahaan pegang banyak simpanan uang. Contohnya Apple, yang menyatakan punya dana menganggur hingga US$ 175 miliar.
Uang tunai inilah yang bisa menjadi payung bagi perusahaan jika terjadi pembalikan harga saham ke arah negatif, atau bisa digunakan juga untuk mendorong pertumbuhan perusahaan.
Ia menambahkan, penguatan serentak di pasar modal seluruh dunia ini bukan tanpa risiko. Pasalnya, saat ini ada sentimen negatif yang diam-diam menghantui.
Sentimen tersebut adalah melambatnya laju perekonomian di China dan Uni Eropa ditambah adanya konflik antara Rusia dan Ukraina serta ketegangan di Timur Tengah.
"Masih banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa saham-saham akan sulit naik lebih tinggi lagi," katanya.
Pasar saham yang sampai penutupan perdagangan cetak rekor antara lain Inggris, AS, Jerman, Swedia, dan Indonesia.
Tak hanya itu, banyak juga pasar saham yang mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir meski tidak cetak rekor. Contohnya, Bursa Jepang yang ditutup tertinggi sejak tahun 2000.
Ada juga Prancis, Belgia, Irlandia, dan Belanda yang capai titik tertinggi sejak 2008, sebelum krisis ekonomi finansial global.
(ang/dnl)











































