Efek Samping Polemik KPK-Polri Mengancam IHSG

Efek Samping Polemik KPK-Polri Mengancam IHSG

- detikFinance
Kamis, 05 Mar 2015 11:31 WIB
Efek Samping Polemik KPK-Polri Mengancam IHSG
Jakarta - Pasar keuangan Indonesia memang masih semringah, terbukti dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat beberapa kali mencetak rekor dan hampir menyentuh level 5.500. Namun, ke depan ada potensi pasar akan berbalik arah.

Mandiri Sekuritas dalam risetnya Kamis (5/3/2015) menyebutkan bahwa saat ini investor masih terlena dengan sentimen positif lama. Setidaknya ada 4 faktor yang menyebabkan pelaku pasar masih menyimpan optimisme.

"Empat berita positif lama tersebut adalah reformasi harga BBM bersubsidi, disetujuinya APBN-P 2015 yang fokus pada pengembangan infrastruktur, penurunan suku bunga, dan potensi naiknya peringkat (rating) utang Indonesia dari Standard&Poor’s," sebut riset Mandiri Sekuritas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, ada sejumlah perkembangan negatif yang bisa membalik optimisme pasar. Sepertinya, sentimen negatif tersebut akan mulai terasa pada pertengahan tahun.

"Sebagian besar perkembangan berita yang negatif sayangnya tidak diindahkan investor, dan sepertinya akan terjadi pada pertengahan 2015. Misalnya APBN-P 2015 menunjukkan adanya pertumbuhan 30% pada pendapatan pajak. Jika target pajak itu tidak terpenuhi, maka anggaran pemerintah untuk infrastruktur dapat dipangkas," jelas riset tersebut.

Kemudian, ada kecenderungan terjadinya pengaturan harga barang dan rusaknya aturan hukum yang merupakan efek samping dari polemik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Polri.

"Dalam pandangan Mandiri Sekuritas, ini akan menurunkan daya tarik Indonesia bagi investor langsung (direct investors)," tegas riset itu.

Melihat perkembangan tersebut, Mandiri Sekuritas pun menurunkan proyeksi IHSG tahun ini. Sepertinya akan sulit melihat IHSG menembus kisaran 5.500.

"Kami menurunkan prediksi IHSG akhir tahun ini menjadi 5.450 dari sebelumnya 6.350. Kemudian country rating menjadi neutral dari sebelumnya overweight. Ini karena ada risiko koreksi," papar riset Mandiri Sekuritas.

(hds/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads