Arus dana asing (capital inflow) yang masuk ke Indonesia masih gencar. Sejak Desember 2014 sampai saat ini, dana asing sudah masuk Rp 57 triliun, naik 90% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 30 triliun.
"Lihat masuk dana ke indonesia untuk beli SUN dan saham di pasar modal itu Rp 57 triliun dari Desember sampai sekarang. Tahun lalu, Desember 2013 sampai tanggal segini itu hanya Rp 30 triliun," kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2015).
"Tidak mungkin dana asing masuk kalau negara kondisi makronya tidak baik," tambah Agus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak perusahaan kita melakukan pinjaman ke luar negeri, tapi penerimaannya rupiah, tapi tidak mau lakukan lindung nilai. Nanti pas bayar minta dolar banyak," katanya.
Lindung nilai harus dilakukan, tambah Agus, supaya kondisi perusahaan tetap sehat meski di tengah lonjakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kemarin dolar AS memang sudah melambung tinggi menembus Rp 13.000 alias persis posisi pada krisis moneter 1998.
Dalam situasi seperti ini, Agus meminta perusahaan lebih banyak bertransaksi memakai rupiah ketimbang valuta asing (valas).
"Kalau pakai valuta asing, membuat rupiah tidak jadi tuan rumah dan malah tunduk ke valuta asing yang menciptakan tekanan yang tidak perlu," ujarnya.
(ang/dnl)











































