Gerak rupiah terhadap dolar AS yang semakin melemah membuat mata uang Paman Sam tembus Rp 13.000. Tingginya dolar AS 'menghantam' bisnis pedagang elektronik.
Saat dolar AS terus menguat, harga barang-barang elektronik yang sebagian besar diimpor juga ikut melambung. Akibatnya, permintaan pun berkurang.
Demikian diakui Andreas (62), seorang pedagang elektronik yang ditemui detikFinance saat bertransaksi valuta asing (valas) di Money Changer Valuta Inti Prima (VIP), Menteng, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengaruhnya ke harga barang elektronik, naik bisa 10-50% karena kan banyak impor komponen. Harga jual naik, pembeli sepi," akunya.
Menurut dia, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tak lain karena gonjang-ganjing politik di dalam negeri. Ditambah, kata Andreas, perbaikan ekonomi di AS membuat rupiah tertekan.
"Susah ya soalnya mungkin situasi politik, gonjang-ganjing terlalu keras di dalam negeri, kalau dari luar pengaruh peluang AS kuat, ekonomi membaik, jadi kita tertekan," ungkap dia.
Andreas menambahkan, idealnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak melebihi level Rp 12.000.
"Rp 13.000 sudah terlalu tinggi, di bawah Rp 12.000 idealnya," ucap Andreas.
(drk/ang)











































