Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sudah menembus Rp 13.000. Posisi dolar AS ini sama tingginya dengan 17 tahun lalu alias pada masa krisis moneter (krismon) 1998.
Meski dolar AS balik lagi ke posisi saat krismon, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut pelemahan rupiah itu terjadi dalam situasinya yang berbeda.
"Ini kan beda, jelas kalau dulu lonjakannya (dolar AS) dari Rp 2.000 sampai Rp 15.000 bahkan Rp 18.000, lonjakannya ini beberapa kali lipat," kata Jokowi di sela-sela kunjungannya ke LNG Arun, di Lhok Seumawe, Aceh, Senin (9/3) siang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi menyebut saat ini kondisi perekonomian Indonesia jauh lebih baik dibandingkan masa krismon 1998. Menurut Jokowi, banyak bukti bahwa ekonomi Indonesia dalam kondisi yang baik, seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cetak rekor sampai pasar obligasi yang stabil.
Faktor utama yang membuat dolar AS melambung datang dari eksternal, ujar Jokowi. Terutama faktor membaiknya perekonomian Amerika Serikat (AS).
"Ini kan karena faktor global, faktor eksternal dan semua negara mengalami. Kita selalu bertemu dengan Gubernur BI (Bank Indonesia) untuk mengantisipasi ini. Kita waspada tapi tetap tenang-tenang saja," ujarnya. (ang/hds)











































