Ketenangan Jokowi Hadapi Dolar Rp 13.000, Karena Beda dengan Krismon 1998

Ketenangan Jokowi Hadapi Dolar Rp 13.000, Karena Beda dengan Krismon 1998

Wahyu Daniel - detikFinance
Selasa, 10 Mar 2015 06:51 WIB
Ketenangan Jokowi Hadapi Dolar Rp 13.000, Karena Beda dengan Krismon 1998
Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada perdagangan kemarin. Dolar menyentuh level tertingginya di Rp 13.070. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku waspada, namun tidak panik.

Jokowi kembali menegaskan, pelemahan rupiah ini terjadi karena faktor eksternal, yaitu membaiknya perekonomian Amerika Serikat (AS).

Kepala negara ini menyatakan, kondisi fundamental Indonesia baik, dan inflasi rendah, bahkan terjadi deflasi dalam 2 bulan pertama di 2015 ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut rangkuman pernyataan Jokowi dan menteri terkait dolar yang kembali menembus Rp 13.000, seperti dirangkum, Selasa (10/3/2015).

1. Jokowi: Waspada Tapi Tetap Tenang

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat terhadap rupiah. Presiden Jokowi menyebut pemerintah tetap waspada, tapi tidak panik.

"Sudah saya sampaikan berkali-kali, fundamental ekonomi kita baik, inflasi sangat rendah bahkan Januari kemarin deflasi," kata Jokowi di sela kunjungannya ke LNG Arun, di Lhokseumawe, Aceh, kemarin.

Jokowi menambahkan, banyak bukti bahwa ekonomi Indonesia dalam kondisi yang baik, seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cetak rekor sampai pasar obligasi yang stabil.

Faktor utama yang membuat dolar AS melambung datang dari eksternal, ujar Jokowi. Terutama faktor membaiknya perekonomian Amerika Serikat (AS).

"Ini kan karena faktor global, faktor eksternal dan semua negara mengalami. Kita selalu bertemu dengan Gubernur BI (Bank Indonesia) untuk mengantisipasi ini. Kita waspada tapi tetap tenang-tenang saja," ujarnya.

Pada perdagangan hari ini, posisi tertinggi yang bisa diraih dolar AS berada di level Rp 13.060. Pagi tadi dolar AS dibuka naik di Rp 13.025.

2. Berbeda dengan Krismon 1998

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sudah menembus Rp 13.000. Posisi dolar AS ini sama tingginya dengan 17 tahun lalu alias pada masa krisis moneter (krismon) 1998.

Meski dolar AS balik lagi ke posisi saat krismon, Presiden Jokowi menyebut, pelemahan rupiah itu terjadi dalam situasinya yang berbeda.

"Ini kan beda, jelas kalau dulu lonjakannya (dolar AS) dari Rp 2.000 sampai Rp 15.000 bahkan Rp 18.000, lonjakannya ini beberapa kali lipat," kata Jokowi di sela-sela kunjungannya ke LNG Arun, di Lhok Seumawe, Aceh, kemarin.

"Kalau sekarang kan tidak, stabil. Ini yang selalu jadi pegangan BI (Bank Indonesia). Saya meminta BI untuk selalu menjaga volatilitas pergerakan rupiah itu," tambah Jokowi.

Jokowi menyebut, saat ini kondisi perekonomian Indonesia jauh lebih baik dibandingkan masa krismon 1998. Menurut Jokowi, banyak bukti bahwa ekonomi Indonesia dalam kondisi yang baik, seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cetak rekor sampai pasar obligasi yang stabil.

Faktor utama yang membuat dolar AS melambung datang dari eksternal, ujar Jokowi. Terutama faktor membaiknya perekonomian Amerika Serikat (AS).

"Ini kan karena faktor global, faktor eksternal dan semua negara mengalami. Kita selalu bertemu dengan Gubernur BI (Bank Indonesia) untuk mengantisipasi ini. Kita waspada tapi tetap tenang-tenang saja," ujarnya.

3. Mendag Gobel: Saatnya Genjot Ekspor

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah menembus Rp 13.000/US$. Bagi Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel, anjloknya kurs rupiah menjadi peluang bagi eksportir, untuk meningkatkan nilai ekspor karena produknya bisa bersaing di pasar internasional.

"Dengan rupiah melemah ini justru momentum untuk kita naikkan ekspor. Apa saja mesti kita dorong," kata Gobel saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), kemarin.

Gobel melihat beberapa peluang produk yang bisa dinaikkan volume ekspornya, seperti produk mebel, kerajinan tangan hingga yang paling besar adalah produk makanan dan minuman.

"Besar dong, paling tidak industri mebel dan kerajinan tangan saja dia bisa meningkat lebih baik. Kalau saya melihat begini, kekuatan kita pada sektor makanan dan minuman ini sudah harus added value, yang primer jadi manufaktur," katanya.

Gobel optimistis penurunan nilai rupiah dapat dimanfaatkan eksportir menggenjot nilai ekspor. Gobel berharap momentum ini tidak disia-siakan oleh para eksportir.

"Makanan kita pasti mereka perlukan. Harus kita kelola. Ini momentum untuk kita naikkan. Kita harus persiapkan dari sekarang. Harus naik, walaupun negara-negara sulit, tetapi kita bisa mencari pasar lain," jelasnya.

Hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 13.050 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu di Rp 12.985 per dolar AS. Dolar sudah menembus Rp 13.000 sejak pekan lalu.
Halaman 2 dari 4
(dnl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads