Pemerintah Tegaskan Beda Pelemahan Rupiah Sekarang dengan 1998

Pemerintah Tegaskan Beda Pelemahan Rupiah Sekarang dengan 1998

- detikFinance
Rabu, 11 Mar 2015 11:47 WIB
Pemerintah Tegaskan Beda Pelemahan Rupiah Sekarang dengan 1998
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melanjutkan pelemahannya. Kini, dolar AS sudah menyentuh level Rp 13.100. Ini menjadi titik terkuat dolar AS sejak 17 tahun terakhir, atau sejak krisis ekonomi/krisis moneter (krismon) melanda Tanah Air.

Oleh karena itu, ada anggapan bahwa bayang-bayang krismon mulai menghantui Indonesia. Namun, sebenarnya situasi 1998 dan saat ini sudah jauh berbeda.

Sofyan Djalil, Menko Perekonomian, semalam di Istana Negara menegaskan hal tersebut. Menurutnya, rupiah memang melemah terhadap dolar AS tetapi masih mampu menguat di hadapan mata uang lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini tentunya berbeda dibandingkan dengan 1998. Kala itu, rupiah melemah terhadap hampir seluruh mata uang regional maupun dunia.

"Kondisi hari ini beda dengan kondisi sebelumnya saat rupiah melemah. Waktu 1998, rupiah melemah terhadap dolar, yen, won, dan semua mata uang," kata Sofyan.

Terhadap dolar AS, rupiah memang 'tiarap'. Mengutip data Reuters, saat ini dolar AS diperdagangkan di posisi Rp 13.190. Menguat dibandingkan kala pembukaan pasar yaitu di Rp 13.145.

Kemarin, rupiah sempat jumawa terhadap sejumlah mata uang. Namun hari ini, rupiah pun keok seiring makin tajamnya penguatan dolar AS.

Misalnya terhadap dolar Singapura. Pada 10 Maret 2015 kemarin, dolar Singapura dibuka di posisi Rp 9.443 dan ditutup melemah di Rp 9.422. Sementara hari ini, dolar Singapura menguat menjadi Rp 9.505.

Lalu terhadap won Kerea Selatan, kemarin won dibuka di Rp 11,68 dan ditutup melemah di Rp 11,61. Namun saat ini, won kembali menguat di posisi Rp 11,68.

Terhadap euro pun rupiah sempat menguat. Kemarin, euro dibuka di Rp 14.133 dan ditutup melemah di Rp 14.012. Sedangkan hari ini, euro menguat lagi dan berada di Rp 14.082.

Perbedaan lain dengan krismon 1998, lanjut Sofyan, adalah penyebab pelemahan rupiah. Pada 1998, rupiah melemah akibat kondisi di dalam negeri. Mulai dari krisis ekonomi sampai pergolakan sosial-politik, yang menyebabkan Orde Baru runtuh SEhingg rupiah terperosok sangat dalam.

"Waktu 1998, itu karena persoalan di dalam negeri. Sekarang kinerja ekonomi Indonesia cukup bagus," ujar Sofyan. Sementara pelemahan rupiah saat ini juga disebabkan oleh 'amukan' dolar AS seiring terus membaiknya perekonomian Negeri Paman Sam.

Melihat hal itu, pemerintah menilai pelemahan rupiah masih dalam tahap wajar. Namun bukan berarti pemerintah lepas tangan.

"Kalau ditanya kepada analis, ini adalah hal yang wajar. Tapi kita tidak ingin volatilitas tinggi, yang penting rupiah stabil," tutur Sofyan.

(hds/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads